Bank Indonesia:

Waspada! Ekonomi Global Masih Gonjang-ganjing hingga Akhir Tahun

 LAPORAN: <a href='https://rmol.id/about/alifia-dwi-ramandhita-1'>ALIFIA DWI RAMANDHITA</a>
LAPORAN: ALIFIA DWI RAMANDHITA
  • Rabu, 19 Agustus 2026, 15:11 WIB
Waspada<i>!</i> Ekonomi Global Masih Gonjang-ganjing hingga Akhir Tahun
Pejabat Gubernur Sementara (Pgs) Bank Indonesia Destry Damayanti. (Foto: Tangkapan layar Zoom)
Kecil Besar
rmol news logo Bank Indonesia (BI) mewanti-wanti ketidakpastian ekonomi global masih akan membayangi perekonomian hingga akhir tahun 2026.
HUT RMOL news

Pejabat Gubernur Sementara (Pgs) Bank Indonesia Destry Damayanti mengatakan, kondisi global masih menghadapi ketidakpastian yang berkepanjangan terutama terkait suku bunga dan tekanan di sektor keuangan global.

"Sehingga kita memasuki suatu era yang dinamakan higher for longer," kata Destry dalam konferensi pers virtual Rapat Dewan Gubernur (RDG) pada Rabu 19 Agustus 2026.

Destry mengatakan, pertumbuhan ekonomi dunia pada 2026 diprakirakan hanya sekitar 3 persen, sementara tekanan inflasi global diperkirakan masih tinggi di level 4,5 persen.

Menurut Destry, kondisi tersebut dipengaruhi berlanjutnya intensitas perang di Timur Tengah yang mendorong harga minyak dan komoditas dunia lainnya kembali naik. Tekanan inflasi yang masih tinggi juga mendorong kebijakan moneter global menjadi lebih ketat.

"Prospek perekonomian global masih lemah disertai dengan ketidakpastian pasar keuangan yang tetap tinggi. Kondisi ini dipengaruhi oleh berlanjutnya intensitas perang di Timur Tengah yang mendorong harga minyak dan komoditas dunia lainnya kembali naik," kata Destry.

Menurut BI, suku bunga kebijakan moneter Amerika Serikat (AS) atau Fed Funds Rate (FFR) bahkan diprakirakan kembali naik pada triwulan IV 2026.

"Kita akan menghadapi tekanan-tekanan yang tinggi untuk sektor keuangan juga pasar keuangan global. Di situ juga akan tercermin dengan suku bunga The Fed yang mungkin akan ada kecenderungan untuk tetap bertahan tinggi karena ada tekanan inflasi yang tinggi di sana," kata Destry.

Destry menambahkan, kondisi tersebut berpotensi meningkatkan pasokan obligasi di pasar global sekaligus menjaga imbal hasil US Treasury tetap tinggi.

"Kemudian juga ada peningkatan harga-harga minyak, termasuk juga mereka harus menambah suplai untuk pembiayaan defisit di anggaran mereka. Sehingga supply dari bond yang mereka issue juga akan meningkat," kata Destry.

BI menilai ketidakpastian pasar keuangan global yang berlanjut juga menahan preferensi investor terhadap investasi portofolio di negara emerging markets. Kondisi tersebut membuat indeks dolar AS atau DXY tetap kuat terhadap mata uang negara maju maupun negara berkembang.

"Sehingga itu semua akan menciptakan situasi hampir semua, apakah itu worldwide, apakah itu interest rate, mereka akan berada dalam posisi yang tinggi. Ya itu juga yang membuat kenapa DXY juga kita perkirakan akan tetap berada dalam posisi yang kuat," pungkas Destry.rmol news logo article
Jadikan RMOL.ID sumber pilihan pencarian Google

FOLLOW US

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari RMOL.ID di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

ARTIKEL LAINNYA