ETF Emas Syariah Dinilai Menarik, Ekonom Ingatkan Manajemen Risiko

 LAPORAN: <a href='https://rmol.id/about/sarah-alifia-suryadi-1'>SARAH ALIFIA SURYADI</a>
LAPORAN: SARAH ALIFIA SURYADI
  • Rabu, 12 Agustus 2026, 12:47 WIB
ETF Emas Syariah Dinilai Menarik, Ekonom Ingatkan Manajemen Risiko
Ilustrasi (Artificial Intelligence)
Kecil Besar
rmol news logo Kehadiran lima ETF emas syariah di Bursa Efek Indonesia (BEI) membuka alternatif baru bagi investor yang ingin memiliki eksposur terhadap aset emas. 

Namun, instrumen tersebut tetap memiliki risiko yang perlu diperhatikan, terutama karena harga emas dapat berfluktuasi.

Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (FEB UI) Telisa Aulia Falianty menilai ETF emas syariah memiliki prospek menarik karena berbasis pada emas sebagai aset yang memiliki nilai intrinsik. 

Instrumen tersebut juga dapat menjadi pilihan bagi investor yang memiliki preferensi terhadap portofolio berbasis emas.

"ETF ini akan sangat menarik, ya. Dia adalah derivatif dari si produk emas itu sendiri dan untuk menjadi hedging instrument juga, dan biasanya memiliki return yang cukup menarik," kata Telisa kepada RMOL, Rabu, 12 Agustus 2026. 

Meski demikian, menurut Telisa, karakter ETF sebagai produk turunan membuat aspek manajemen risiko menjadi penting. Risiko pasar menjadi perhatian utama karena nilai instrumen tetap mengikuti pergerakan harga emas.

"Namun memang ETF ini harus dikelola dari sisi manajemen risiko karena kan tetap aja ada risiko pasar, risiko operasional, tapi terutama risiko pasar. Harga emas kan pasti berfluktuasi," jelasnya.

Selain risiko pasar, terdapat pula risiko pihak lawan transaksi atau counterparty risk serta risiko likuiditas. Risiko tersebut perlu dikelola melalui batasan risiko dan mekanisme yang sesuai dengan perkembangan ekosistem ETF emas.

Telisa mengatakan risiko likuiditas juga perlu diperhatikan, antara lain dengan melihat rasio antara paper gold dan perdagangan emas fisik. Sementara risiko pasar dapat dikelola dengan menetapkan batasan terhadap volatilitas harga emas.

"Jadi ini cukup menarik tapi tetap perlu dikaji juga risikonya, risikonya tetap perlu dipersiapkan," tegas Telisa.

Menurutnya, ETF emas syariah berpotensi menjadi instrumen lindung nilai sekaligus dapat berperan sebagai stabilisator ketika pasar ETF sudah semakin dalam. Namun, hal tersebut membutuhkan ekosistem yang matang.

"Karena ini masih baru, tentu ekosistemnya perlu dibangun terlebih dahulu termasuk dari sisi manajemen risikonya," ujarnya.

BEI sebelumnya meluncurkan lima ETF syariah berbasis emas pada 10 Agustus 2026. Produk tersebut didukung kepemilikan emas fisik melalui Electronic Gold Receipt (EGR), diperdagangkan seperti saham di bursa, serta mengacu pada ketentuan syariah berdasarkan fatwa DSN-MUI.

Kelima produk tersebut yakni XSGO dari Syailendra Capital, XGLD dari Indo Premier Investment Management, XDES dari BRI Manajemen Investasi, XTRA dari Trimegah Asset Management, dan XMES dari Mandiri Manajemen Investasi.rmol news logo article
Jadikan RMOL.ID sumber pilihan pencarian Google
EDITOR: RENI ERINA

FOLLOW US

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari RMOL.ID di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

ARTIKEL LAINNYA