Tren positif ini dipicu oleh merosotnya data tenaga kerja Amerika Serikat yang memperkecil peluang bank sentral AS (The Fed) untuk menaikkan suku bunga.
Secara spesifik, harga emas spot melonjak 2,3 persen menjadi 4.336,02 Dolar AS per troy ounce, setelah sempat melesat lebih dari 3 persen ke level tertinggi sejak 17 Juni. Kenaikan mingguan emas spot mencatatkan performa terbaik sejak 19 Januari dengan lonjakan lebih dari 7 persen sepanjang pekan.
Sementara itu, kontrak emas berjangka AS turut menguat 2,3 persen hingga ditutup pada level 4.399,70 Dolar AS per troy ounce.
Langkah penguatan ini juga diikuti oleh komoditas logam mulia lainnya yang seluruhnya berada di jalur kenaikan mingguan. Harga perak spot melonjak 3 persen menjadi 63,29 Dolar AS per troy ounce, platinum menguat 1,1 persen ke posisi 1.747,60 Dolar AS per troy ounce, dan palladium terangkat 0,8 persen menjadi 1.381,61 Dolar AS per troy ounce.
Penguatan emas didorong oleh rilis data nonfarm payrolls AS yang secara mengejutkan memangkas 23.000 lapangan kerja pada Juli, berbanding terbalik dari perkiraan ekonom yang memproyeksikan penambahan 80.000.
Kondisi ini menekan nilai Dolar AS dan mengubah ekspektasi pasar. Berdasarkan data LSEG, probabilitas The Fed menahan suku bunga pada September melonjak menjadi 56,1 persen dari sebelumnya 43,2 persen.
Ekspektasi suku bunga rendah ini meningkatkan daya tarik emas sebagai aset tanpa imbal hasil (yield), bahkan lembaga keuangan UBS memproyeksikan harga emas mampu menyentuh 5.000 Dolar AS per troy ounce pada paruh pertama 2027.

BERITA TERKAIT: