Menurutnya, pemerintah telah menyiapkan lahan milik Danantara di kedua wilayah tersebut sebagai lokasi pengembangan pusat keuangan internasional itu.
"Memang disiapkan juga satu lokasi di Jakarta yang gedungnya sudah ada. Ada beberapa tempat disiapkan. Dua-duanya punya Danantara," ujar Airlangga kepada wartawan di Kantor Kemenko Perekonomian, Kamis 23 Juli
Namun demikian, Airlangga belum bersedia mengungkap secara rinci aset Danantara yang akan digunakan di Jakarta maupun Bali.
Menurutnya, lokasi PFII di Bali tidak terbatas pada aset milik BUMN sektor pariwisata dan aviasi, termasuk yang dikelola InJourney.
"Tidak melulu InJourney. Di Jakarta satu tempat. Di Bali kan se-Pulau Bali. Nanti salah satu lokasi di situ. Nanti akan diumumkan kalau semuanya sudah siap," katanya.
Airlangga juga enggan membeberkan pertimbangan bisnis di balik pemilihan Jakarta dan Bali sebagai lokasi PFII. Saat ini, kata dia, pemerintah lebih memprioritaskan percepatan realisasi proyek tersebut.
"Pertimbangannya mana yang low-hanging fruit, yang paling cepat bisa kita dirikan," ujarnya.
Sebelumnya, Airlangga menjelaskan alternatif lokasi PFII di Bali muncul setelah dirinya bersama Chief Executive Officer (CEO) Danantara Rosan Roeslani meninjau sejumlah Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) dan aset milik BUMN di Pulau Dewata.
"Kemarin kami lihat beberapa KEK, dan juga lahan di Bali Barat maupun lahan di dekat airport yang dimiliki oleh BUMN. Nah, jadi itu yang menjadi alternatif untuk pendirian PFII," kata Airlangga.
BERITA TERKAIT: