AS Naikkan Tarif Impor Obat Generik, Bagaimana Dampaknya ke Farmasi Indonesia?

 LAPORAN: <a href='https://rmol.id/about/reni-erina-1'>RENI ERINA</a>
LAPORAN: RENI ERINA
  • Rabu, 22 Juli 2026, 11:36 WIB
AS Naikkan Tarif Impor Obat Generik, Bagaimana Dampaknya ke Farmasi Indonesia?
Ilustrasi (Artificial Inteligence)
Kecil Besar
rmol news logo Pemerintah Amerika Serikat (AS) mengumumkan kebijakan baru berupa kenaikan tarif impor obat generik secara drastis. Kebijakan ini diambil untuk menggenjot produksi farmasi di dalam negeri sekaligus mengurangi ketergantungan AS pada pasokan obat luar negeri.

Presiden Donald Trump membeberkan tahapan kenaikan tarif tersebut, yaitu seluruh obat generik yang diimpor ke AS akan tetap dikenakan tarif 0 persen selama dua tahun, terhitung mulai 1 Agustus 2026. 

Setelah masa transisi tersebut berakhir, pemerintah AS akan memberlakukan tarif sebesar 100 persen mulai Agustus 2028 selama satu tahun, sebelum kembali dinaikkan menjadi 200 perseb pada tahun berikutnya.

1 Agustus 2026 - Juli 2028: Masa transisi 2 tahun dengan tarif 0 persen.
Agustus 2028:  Tarif impor naik drastis menjadi 100 persen selama satu tahun.
Agustus 2029: Tarif melonjak hingga 200 persen

Trump menegaskan bahwa skema bertahap ini memberikan waktu bagi para produsen obat generik untuk merelokasi dan membangun fasilitas produksi di AS. Perusahaan yang enggan pindah akan dihantam tarif tinggi tersebut.

Bagi emiten farmasi yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI), seperti Kalbe Farma (KLBF), Kimia Farma (KAEF), Indofarma (INAF), Pyridam Farma (PYFA), dan Merck Indonesia (MERK), efek langsung dari aturan ini tergolong terbatas. Pasalnya, fokus utama mereka adalah pasar domestik, bukan ekspor ke AS.

Meski tidak terdampak langsung, perubahan ini tetap membawa potensi risiko bagi industri farmasi lokal. 

Produsen obat generik luar negeri yang kehilangan pasar AS berpotensi mengalihkan penjualannya ke kawasan lain, termasuk Asia Tenggara. Hal ini akan membuat persaingan regional akan memanas.
 
Jika biaya produksi global dan harga bahan baku (API) naik akibat relokasi pabrik ke AS, emiten Indonesia yang masih bergantung pada bahan baku impor bisa mengalami penurunan margin laba.

Namun, situasi ini dapat menjadi pemicu bagi Indonesia untuk mempercepat kemandirian industri bahan baku farmasi dalam negeri agar tidak terus bergantung pada impor. rmol news logo article


Jadikan RMOL.ID sumber pilihan pencarian Google
EDITOR: RENI ERINA

FOLLOW US

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari RMOL.ID di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

ARTIKEL LAINNYA