Digitalisasi Perdagangan Kopi Dorong Efisiensi Rantai Pasok hingga Tingkat Petani

 LAPORAN: <a href='https://rmol.id/about/reni-erina-1'>RENI ERINA</a>
LAPORAN: RENI ERINA
  • Kamis, 16 Juli 2026, 06:55 WIB
Digitalisasi Perdagangan Kopi Dorong Efisiensi Rantai Pasok hingga Tingkat Petani
Ilustrasi (Foto: Istimewa)
Kecil Besar
rmol news logo Di tengah ketidakpastian iklim yang memengaruhi produktivitas sektor agrikultur dan fluktuasi biaya logistik global, digitalisasi rantai pasok (supply chain) komoditas perkebunan dinilai menjadi instrumen krusial bagi ketahanan UMKM.

Salah satu fenomena yang menonjol adalah pemanfaatan ekosistem niaga elektronik (e-commerce) terintegrasi yang mampu memangkas asimetri informasi antara petani di hulu dan konsumen di hilir.

Potensi pasar kopi domestik yang besar kini tidak lagi sekadar bergantung pada jalur distribusi konvensional. Transformasi perilaku konsumen yang bergeser ke arah konsumsi rumah tangga (home brewing) pasca-pandemi menuntut pelaku industri hilir kopi (roastery) untuk adaptif dalam memperluas penetrasi pasar.

Bagi para pelaku usaha di industri kopi lokal, tantangan operasional bergerak dinamis. Mulai dari fluktuasi harga bahan baku akibat pergerakan nilai tukar, kenaikan harga kemasan berbasis komponen impor, hingga anomali cuaca yang mengganggu kalender panen di berbagai wilayah sentra produksi seperti Mandailing, Temanggung, hingga Papua.

Dalam lanskap kompetisi yang semakin padat, integrasi platform digital dinilai strategis untuk menjaga stabilitas omzet. 

Berdasarkan data dari salah satu pelaku industri, Sakha Coffee Roastery, yang didirikan sejak 2018, pemanfaatan kanal digital seperti Tokopedia dan TikTok Shop kini berkontribusi sebesar 40 persen  terhadap total penjualan perusahaan. 

Ekspansi pasar ini bertumpu pada adopsi fitur interaktif seperti live shopping dan konten edukasi visual.

"Akses digital mengubah cara kami berinteraksi dengan pasar. Konsumen kini tidak sekadar membeli komoditas, melainkan juga menyerap informasi mengenai asal-usul (origin) geografis serta karakteristik produk. Dari sisi B2B, platform ini juga mempermudah pemilik kedai kopi di daerah untuk mengakses bahan baku secara langsung," ujar Teuku Andi Nova Reza, Pendiri Sakha Coffee Roastery, dalam keterangannya kepada media di Jakarta, Rabu 15 Juli 2026.

Strategi ini terbukti memberikan dampak signifikan saat perusahaan terlibat dalam program campaign tematik seperti #BeliLokal, yang mencatatkan lonjakan volume penjualan hingga 60 persen. 

Salah satu indikator keberhasilan pasar adalah terserapnya varietas kopi langka seperti Excelsa asal Sumedang, yang secara global hanya merepresentasikan sekitar 2 persen dari total produksi dunia.

Skalabilitas yang dicapai melalui digitalisasi pada akhirnya mentransfer dampak ekonomi ke sektor hulu dan serapan tenaga kerja lokal. Dari unit usaha kecil yang awalnya hanya didukung oleh lima orang personel, pertumbuhan volume transaksi mampu mendorong penyerapan tenaga kerja hingga lebih dari 100 orang di bagian operasional, produksi, pengemasan, hingga pembuat konten.

Secara makro, serapan ini memperkuat rantai kemitraan dengan para petani kopi di berbagai klaster penanaman dari Sumatera hingga Papua, memberikan kepastian serapan pasar (offtaker) terhadap hasil bumi domestik.

Secara agregat, tren pertumbuhan ini tecermin dalam kinerja ekosistem digital nasional. Hingga Kuartal I-2026, inisiatif #BeliLokal yang diusung oleh Tokopedia dan TikTok Shop dilaporkan telah merangkul lebih dari 20.000 pelaku usaha lokal pilihan, atau tumbuh 30 persen secara tahunan (year-on-year). 

Sejalan dengan itu, jumlah listing produk dengan label 'Buatan Indonesia' melonjak 44 persen mendekati angka 2 juta item produk.

Senior Director Tokopedia and TikTok Shop Indonesia, Vonny Ernita Susamto, menjelaskan bahwa perluasan akses pasar digital memiliki korelasi linear terhadap penguatan rantai pasok lokal.

"Ketika akses pasar terbuka, dampak ekonominya meluas ke penciptaan lapangan kerja baru di tingkat lokal dan memperluas akses pasar bagi petani di hulu. Fokus kami adalah memperkuat kapasitas fundamental UMKM," kata Vonny.

Sebagai bagian dari langkah memperkecil kesenjangan digital antarwilayah, program edukasi berkelanjutan seperti 'Waktunya STARt Go Digital' diklaim telah melatih lebih dari 4.800 pelaku usaha dan kreator sejak 2024, di mana 77 persen dari total peserta berasal dari luar kawasan Jabodetabek. 

Langkah sinergi dengan kementerian dan lembaga pemerintah pusat terus dipacu untuk memastikan digitalisasi sektor UMKM dapat berjalan inklusif demi mendukung stabilitas ekonomi domestik. rmol news logo article
Jadikan RMOL.ID sumber pilihan pencarian Google
EDITOR: RENI ERINA

FOLLOW US

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari RMOL.ID di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

ARTIKEL LAINNYA