Berdasarkan data Yahoo Finance, saham Lufthansa yang diperdagangkan di Bursa Xetra ditutup merosot 8,21 persen ke level 8,48 Euro pada Selasa, 4 Agustus 2026. Ini menjadi salah satu penurunan harian terbesar perusahaan dalam beberapa waktu terakhir.
Tekanan terhadap saham muncul setelah Lufthansa mengungkapkan bahwa lonjakan dan fluktuasi harga bahan bakar jet akibat perang di Timur Tengah diperkirakan akan menggerus laba perusahaan. Kondisi tersebut membuat maskapai kesulitan memastikan seluruh kenaikan biaya operasional dapat dibebankan kepada penumpang melalui harga tiket.
Lufthansa kini memperkirakan laba inti (EBIT) tahun 2026 berada di kisaran 1,7 miliar Euro hingga 2,2 miliar Euro (sekitar 2-2,5 miliar Dolar AS). Proyeksi tersebut lebih rendah dibandingkan panduan sebelumnya yang menyebut laba tahun ini akan "jauh lebih tinggi" dari capaian tahun 2025 sebesar 1,96 miliar Euro.
Direktur Keuangan Lufthansa, Till Streichert, mengatakan perusahaan masih berupaya mengimbangi kenaikan biaya bahan bakar dengan menaikkan harga tiket pada paruh kedua tahun ini.
"Tentu saja kami berharap untuk melanjutkan strategi kami di paruh kedua tahun ini dengan menaikkan harga tiket untuk mengimbangi biaya bahan bakar yang lebih tinggi," ujar Streichert dalam konferensi pers usai laporan keuangan.
Namun, ia mengakui prospek tersebut masih diliputi ketidakpastian karena pola pemesanan penumpang berubah.
"Visibilitas di sana agak lebih rendah daripada biasanya karena kami melihat pelanggan memesan lebih sedikit di muka," tambahnya.
Menurut manajemen, ketidakpastian permintaan serta tingginya biaya bahan bakar akibat konflik geopolitik di Timur Tengah menjadi tantangan utama bagi kinerja Lufthansa hingga akhir tahun. Penurunan prospek laba itu pun langsung memicu aksi jual investor sehingga saham perusahaan terkoreksi lebih dari 8 persen dalam sehari.
BERITA TERKAIT: