Namun, penguatan pasar saham berbanding terbalik dengan pergerakan rupiah yang melemah hingga menembus level psikologis Rp18.100 per dolar AS.
Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), IHSG naik 39 poin atau 0,67 persen ke posisi 5.912.
Volume transaksi mencapai 27 miliar saham dengan nilai Rp12 triliun dan frekuensi 2,2 juta kali. Kapitalisasi pasar naik menjadi Rp10.351 triliun.
Sebanyak 327 saham menguat, 275 saham melemah, dan 190 saham lainnya stagnan.
Di pasar valuta asing, mengutip data Bloomberg, rupiah melemah 114 poin atau 0,63 persen ke level Rp18.128 per dolar AS dibandingkan perdagangan sebelumnya.
Pengamat mata uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi mengatakan pelemahan rupiah dipengaruhi menguatnya indeks dolar AS yang didorong meningkatnya tensi geopolitik di Timur Tengah dan faktor domestik.
"Indeks dolar AS menguat usai Presiden AS Donald Trump mengancam akan melancarkan serangan baru terhadap Iran setelah serangan Rabu malam," ujar Ibrahim dalam risetnya.
AS mengatakan serangan terbarunya merupakan tanggapan terhadap serangan hari Selasa terhadap tiga kapal tanker yang melintasi selat tersebut. Serangan tersebut mengguncang beberapa kota di sepanjang pantai selatan Iran dan menyebabkan beberapa daerah tanpa aliran listrik.
Sementara Iran mengatakan pada hari Rabu bahwa mereka menyerang situs militer AS di Bahrain dan Kuwait sebagai tanggapan atas serangan AS sebelumnya terhadap infrastruktur.
Menurut Ibrahim, eskalasi konflik tersebut mulai berdampak pada aktivitas pelayaran internasional.
"Beberapa perusahaan asuransi perang telah menyarankan perusahaan pelayaran untuk menghentikan sementara pelayaran melalui Selat Hormuz, dan yang lainnya sedang meninjau ketentuan polis mereka setelah serangan kapal Iran yang diperbarui," kata Ibrahim.
Selain itu, Ibrahim menilai risalah rapat Federal Reserve (The Fed) juga ikut menopang penguatan dolar AS.
“Risalah rapat Fed bulan Juni yang dirilis pada hari Rabu kurang dovish daripada yang dikhawatirkan pasar, dengan para pembuat kebijakan sebagian besar terpecah pendapat mengenai perlunya kenaikan suku bunga tahun ini," kata Ibrahim.
Sementara itu dari dalam negeri, Ibrahim menambahkan percepatan realisasi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) pada semester I-2026 menjadi sentimen negatif bagi pasar.
Untuk diketahui, APBN tercatat mengalami defisit sebesar Rp196,5 triliun atau setara 0,76 terhadap PDB hingga semester I-2026.
"Pelaksanaan APBN yang lebih cepat pada semester pertama 2026 menjadi sentimen negatif bagi pasar," tandas Ibrahim.
Jadikan RMOL.ID sumber pilihan pencarian Google
BERITA TERKAIT: