Meredanya ketegangan geopolitik setelah tercapainya kesepakatan sementara antara AS dan Iran turut menambah tekanan bagi logam mulia tersebut.
Harga emas spot turun 0,8 persen menjadi 4.225,39 Dolar AS per ons, setelah sempat menyentuh level terendah sejak November 2025 pada pekan lalu. Sementara itu, kontrak emas berjangka AS untuk pengiriman Agustus ditutup merosot 3,1 persen menjadi 4.245,90 Dolar AS per ons.
Wakil Presiden Zaner Metals, Peter Grant, mengatakan pelemahan emas dipicu oleh perubahan sikap The Fed yang dinilai semakin hawkish. Sikap tersebut mendorong indeks dolar AS (DXY) menguat hingga mencapai level tertinggi dalam setahun terakhir, sehingga membuat emas menjadi lebih mahal bagi pembeli yang menggunakan mata uang lain.
Meski mempertahankan suku bunga acuannya pada pertemuan terbaru, The Fed mengindikasikan masih terbuka peluang kenaikan suku bunga sebelum akhir tahun. Berdasarkan FedWatch Tool CME Group, pelaku pasar kini memperkirakan peluang kenaikan suku bunga pada Desember mencapai 85 persen, naik dari 61 persen sebelum keputusan The Fed diumumkan.
Sebagai aset yang tidak memberikan imbal hasil, emas cenderung kurang diminati saat suku bunga tinggi karena investor beralih ke instrumen yang menawarkan pengembalian lebih menarik.
Sentimen negatif terhadap emas juga datang dari perkembangan geopolitik. Amerika Serikat dan Iran menandatangani perjanjian sementara untuk mengakhiri konflik, yang mendorong penurunan harga minyak dan meredakan kekhawatiran terhadap lonjakan inflasi global. Harga minyak Brent turun ke level terendah sejak awal Maret, sementara minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) juga menyentuh posisi terendah dalam lebih dari tiga bulan.
Logam mulia lainnya turut melemah. Harga perak spot turun 3 persen menjadi 65,96 Dolar AS per ons, platinum terkoreksi 1,9 persen ke 1.703,94 Dolar AS per ons, dan paladium merosot 2,2 persen menjadi 1.285,96 Dolar AS per ons.
BERITA TERKAIT: