Perang AS-Iran Berakhir, Dolar AS Terkapar ke Level Terendah 10 Hari

 LAPORAN: <a href='https://rmol.id/about/reni-erina-1'>RENI ERINA</a>
LAPORAN: RENI ERINA
  • Selasa, 16 Juni 2026, 08:25 WIB
Perang AS-Iran Berakhir, Dolar AS Terkapar ke Level Terendah 10 Hari
Ilustrasi (Artificial Inteligence)
rmol news logo Kabar perdamaian di Timur Tengah langsung memicu aksi jual terhadap Dolar AS (greenback). Mata uang Negeri Paman Sam tersebut terjerembab hingga menyentuh level terendah dalam 10 hari terakhir terhadap Euro dan Poundsterling. 

Merosotnya performa Dolar ini terjadi setelah Amerika Serikat dan Iran sepakat mengakhiri perang, sebuah momentum yang seketika menekan harga minyak serta imbal hasil, sekaligus membangkitkan kembali selera investor terhadap aset berisiko.

Laporan merosotnya Dolar ini menyusul pernyataan Presiden AS Donald Trump terkait penandatanganan nota kesepahaman pemulihan perdamaian di kawasan Teluk. Keyakinan pasar terhadap stabilitas kawasan pun meningkat. Kepala Strategi Pasar Bannockburn Global Forex, Marc Chandler, mencatat adanya optimisme besar di kalangan investor terhadap realisasi perjanjian ini.

Kesepakatan tersebut mencakup pembukaan kembali jalur pelayaran yang sempat diblokade serta perpanjangan gencatan senjata selama 60 hari untuk membahas isu sensitif seperti program nuklir Iran. 

Kendati upacara peresmian baru akan digelar di Jenewa pada Jumat mendatang, pasar masih memantau dengan hati-hati. Chandler mengingatkan bahwa tingginya ketidakpercayaan antar-kedua negara membuat pasar belum sepenuhnya yakin implementasi kesepakatan akan berjalan mulus. 

Dampak langsung dari sentimen perdamaian ini terlihat pada koreksi nilai tukar Dolar AS terhadap sejumlah mata uang global di pasar uang New York Senin malam atau Selasa dini hari, 16 Juni 2026:

Indeks Dolar AS (DXY) yang mengukur kinerja greenback terhadap sekeranjang enam mata uang utama termasuk Euro dan Yen melemah 0,20 perssen ke level 99,60. 

Euro (EUR) menguat 0,25 persen menjadi 1,1597 Dolar AS, setelah sebelumnya sempat melonjak ke posisi 1,1622 Dolar AS, dan tertinggi sejak 5 Juni.

Poundsterling (GBP) terkerek naik sebesar 0,1 persen ke level 1,342 Dolar AS.

Yen Jepang (JPY) berada di posisi 160,25 per Dolar AS (melemah tipis 0,03 persen setelah sempat menguat). Posisi ini membuat Dolar tetap bertahan di zona kritis yang rawan memicu intervensi valas oleh pemerintah Jepang.

Fokus pelaku pasar kini bergeser ke agenda pertemuan sejumlah bank sentral utama minggu ini guna melihat sejauh mana redanya konflik geopolitik memengaruhi kebijakan moneter dan kekhawatiran inflasi.

Federal Reserve (The Fed) diprediksi kuat akan menahan suku bunga acuan AS di angka 3,5 persen hingga 3,75 persen pada pengumuman yang dijadwalkan pada Rabu besok. Namun, menyusul situasi global yang mereda, bank sentral AS ini diperkirakan bakal mengurangi sinyal kelonggaran moneternya.

Pasar juga menanti konferensi pers perdana Chairman Fed yang baru, Kevin Warsh. Berkat membaiknya sektor tenaga kerja dan inflasi AS yang masih bertengger di atas target 2 perseb, investor kini melihat adanya peluang sebesar 56 persen bagi The Fed untuk mengerek suku bunga pada bulan Desember mendatang.

Sementara itu dari Asia, Bank of Japan (BOJ) diproyeksikan menaikkan suku bunga ke level 1 persen, tertinggi dalam 31 tahun terakhir, untuk meredam inflasi. 

Menurut analisis Marc Chandler, langkah BOJ ini tidak akan terlalu menggoyang keperkasaan dolar terhadap yen karena pasaran telah mengantisipasinya. Di sisi lain, Reserve Bank of Australia (RBA) dan Bank of England (BoE) diperkirakan memilih jalan aman dengan mempertahankan suku bunga acuan mereka saat ini. rmol news logo article


EDITOR: RENI ERINA

FOLLOW US

ARTIKEL LAINNYA