Dikutip dari
CNBC International, indeks Nikkei 225 Jepang melonjak 1,36 persen, sementara indeks Topix naik 0,55 persen. Penguatan pasar Jepang terjadi setelah data menunjukkan inflasi inti Jepang melambat pada April 2026 menjadi 1,4 persen, lebih rendah dari perkiraan ekonom sebesar 1,7 persen.
Melambatnya inflasi ini membuat pelaku pasar menilai Bank Sentral Jepang kemungkinan tidak akan terburu-buru menaikkan suku bunga. Kondisi tersebut dianggap positif bagi pasar saham karena biaya pinjaman berpotensi tetap rendah lebih lama.
Korea Selatan juga mencatat pergerakan positif. Indeks Kospi naik 0,52 persen, sedangkan indeks saham teknologi Kosdaq melesat lebih dari 3 persen. Kenaikan ini menunjukkan minat investor kembali menguat terhadap saham sektor teknologi dan pertumbuhan.
Di Australia, indeks S&P/ASX 200 naik sekitar 0,5 persen seiring membaiknya sentimen pasar regional. Sementara itu, kontrak berjangka indeks Hang Seng Hong Kong berada di level 25.568, lebih tinggi dibanding penutupan sebelumnya di 25.386.
Meski pasar saham menguat, investor masih mencermati perkembangan negosiasi antara AS dan Iran. Laporan menyebut Iran ingin tetap mempertahankan cadangan uranium yang diperkaya di dalam negeri, sementara Presiden AS Donald Trump menjadikan penghentian program nuklir Iran sebagai salah satu tujuan utama kebijakan terhadap Teheran.
BERITA TERKAIT: