Dikutip dari
CNBC International, Kamis 21 Mei 2026, pada penutupan perdagangan Rabu, harga minyak mentah AS jenis West Texas Intermediate (WTI) turun lebih dari 5 persen dan ditutup di level 98,26 Dolar AS per barel. Sementara minyak mentah Brent yang menjadi acuan internasional juga turun lebih dari 5 persen ke posisi 105,02 Dolar AS per barel.
Sebelumnya, Trump sempat membatalkan rencana serangan militer baru terhadap Iran untuk memberi ruang bagi jalur diplomasi. Kepada wartawan, ia menyebut pemerintahannya kini sedang berada di fase akhir negosiasi dengan Teheran.
Meski begitu, hubungan antara AS dan Iran masih memanas dalam beberapa pekan terakhir. Iran memblokade Selat Hormuz, sementara AS memblokade pelabuhan-pelabuhan Iran. Selat Hormuz sendiri merupakan jalur penting perdagangan energi dunia karena sekitar seperlima pasokan minyak global melewati wilayah tersebut.
Bank investasi Citibank memperingatkan bahwa pasar saat ini dinilai masih meremehkan risiko gangguan pasokan minyak dari Selat Hormuz. Citi memperkirakan harga minyak Brent bisa melonjak hingga 120 dolar AS per barel dalam waktu dekat jika situasi memburuk.
“Menurut pandangan kami, tampaknya semakin besar kemungkinan bahwa rezim Iran akan mengganggu aliran Selat Hormuz untuk beberapa waktu,” kata analis Citi dalam laporan kepada klien mereka.
Sementara itu, perusahaan konsultan energi Wood Mackenzie menyebut harga minyak bahkan bisa mendekati 200 Dolar AS per barel dalam skenario terburuk, yakni jika Selat Hormuz tetap ditutup hingga akhir tahun. Namun jika AS dan Iran berhasil mencapai kesepakatan damai dan jalur pelayaran kembali dibuka pada Juni, harga Brent diperkirakan turun hingga sekitar 80 Dolar AS per barel pada akhir 2026.
BERITA TERKAIT: