Meski mengalami penurunan, harga minyak masih mencatat kenaikan mingguan yang cukup kuat. Hal ini terjadi karena ketegangan geopolitik di Timur Tengah belum mereda. Bahkan, muncul laporan bahwa Presiden AS Donald Trump belum puas dengan proposal terbaru yang diajukan Iran.
Mengutip Reuters, Sabtu 2 Mei 2026, pada penutupan perdagangan Jumat, harga minyak mentah jenis Brent crude turun 2,02 persen ke level 108,17 Dolar AS per barel. Sementara itu, West Texas Intermediate (WTI) melemah 2,98 persen ke posisi 101,94 Dolar AS per barel.
Walaupun terkoreksi, kedua acuan harga tersebut masih berada di jalur kenaikan sekitar 2,95 persen sepanjang pekan ini.
Penurunan harga dipicu oleh laporan bahwa Iran telah mengirimkan proposal negosiasi kepada AS melalui mediator Pakistan. Langkah ini memunculkan harapan di pasar akan adanya solusi dari konflik yang selama ini menekan sektor energi global.
“Usulan Iran ini telah memberikan harapan kepada pasar bahwa ada jalan keluar bagi Amerika Serikat,” kata analis senior Price Futures Group, Phil Flynn.
Namun, kondisi di lapangan masih belum stabil. Iran tetap memblokir Selat Hormuz, yang menjadi jalur penting bagi sekitar seperlima pasokan minyak dan gas alam cair dunia. Di sisi lain, Angkatan Laut AS juga masih membatasi ekspor minyak Iran, sehingga gangguan pasokan belum sepenuhnya mereda.
BERITA TERKAIT: