Dolar AS Catat Kenaikan Harian Terbesar Usai Delapan Sesi Melemah Beruntun

 LAPORAN: <a href='https://rmol.id/about/reni-erina-1'>RENI ERINA</a>
LAPORAN: RENI ERINA
  • Jumat, 17 April 2026, 08:11 WIB
Dolar AS Catat Kenaikan Harian Terbesar Usai Delapan Sesi Melemah Beruntun
Ilustrasi (Artificial Inteligence)
rmol news logo Kurs Dolar AS di pasar uang New York mencatatkan pemulihan teknikal pada perdagangan Kamis 16 April 2026 Waktu setempat. 

Pemulihan ini sekaligus menghentikan tren pelemahan beruntun yang terjadi dalam delapan sesi terakhir. 

Optimisme pasar terhadap potensi kesepakatan damai antara Amerika Serikat dan Iran meningkat setelah Presiden Donald Trump menyatakan bahwa konflik tersebut hampir berakhir. 

Meski pejabat Teheran memperingatkan masih adanya perbedaan prinsipil terkait ambisi nuklir, pelaku pasar mulai menyesuaikan perhitungan mereka dari skenario terburuk menuju kondisi ekonomi yang lebih moderat.

Indeks Dolar AS (DXY), yang memantau kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama dunia, melonjak 0,2 persen ke level 98,19. Pergerakan ini menjadi kenaikan harian terbesar bagi Dolar dalam dua pekan terakhir, setelah sebelumnya sempat merosot ke level terendah sejak akhir Februari. 

Rebound teknikal ini juga didukung oleh data ketenagakerjaan Amerika Serikat yang solid, di mana klaim awal tunjangan pengangguran turun menjadi 207.000, melampaui ekspektasi para ekonom.

Secara sektoral, kebangkitan Dolar AS menekan nilai tukar Euro yang tergelincir 0,1 persen ke posisi 1,1782 Dolar AS setelah sempat menyentuh level tertinggi dalam tujuh minggu. 

Terhadap Yen Jepang, Dolar juga terapresiasi 0,2 persen ke level 159,21 Yen, yang turut dipengaruhi oleh kesepakatan komunikasi nilai tukar antara otoritas keuangan Jepang dan Amerika Serikat. 

Di pasar Asia, penguatan Dolar kian terasa dengan merosotnya Yuan offshore sebesar 1 persen ke angka 6,8231, meski data ekonomi China sebenarnya tumbuh melampaui ekspektasi.

Meskipun Indeks DXY menunjukkan performa positif, para analis menilai penguatan ini masih bersifat terbatas. 

Analis ari Brown Brothers Harriman menyebutkan bahwa fundamental makro untuk beberapa bulan ke depan cenderung netral, mengingat investor masih mencermati apakah gencatan senjata yang bersifat sementara ini akan berlanjut menjadi perdamaian permanen. 

Saat ini, fokus pelaku pasar tetap tertuju pada sisa ketidakpastian geopolitik dan prospek inflasi yang akan menentukan arah kebijakan moneter bank sentral ke depan. rmol news logo article
EDITOR: RENI ERINA

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

FOLLOW US

ARTIKEL LAINNYA