Indeks Dolar (DXY), yang mengukur kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama, terkoreksi 0,18 persen ke level 98,54.
Pelemahan ini menjadi tren negatif terpanjang sepanjang tahun, dipicu oleh gagalnya perundingan damai AS-Iran dan blokade pelabuhan di Timur Tengah. Meskipun biasanya dolar menguat sebagai aset safe-haven saat tensi geopolitik naik, kali ini pasar lebih bereaksi terhadap fluktuasi harga energi yang memengaruhi profil risiko mata uang dunia.
Euro menguat 0,15 persen ke posisi 1,1737 Dolar AS. Sedangkan Dolar Australia menguat 0,44 persen dan Selandia Baru bertambah 0,53 persen terhadap Dolar AS.
Pengecualian di Asia, Dolar AS justru menguat 0,28 persen terhadap Yen ke level 159,74 seiring kenaikan imbal hasil obligasi Jepang.
Analis Goldman Sachs, Teresa Alves, menyebutkan bahwa pergerakan pasar saat ini lebih didorong oleh perubahan daya tawar (terms of trade) akibat lonjakan harga minyak global, bukan sekadar pelarian modal ke aset aman.
Meski harga minyak meroket 40 persen sejak Februari, investor terpantau masih bersikap hati-hati dan belum bereaksi agresif terhadap risiko eskalasi militer terbaru.
BERITA TERKAIT: