Angka ini naik cukup signifikan, yakni 14,44 persen dibandingkan periode yang sama di tahun lalu yang hanya berada di angka 36,78 miliar Dolar AS.
Deputi Bidang Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono, menyebutkan bahwa kenaikan ini sebagian besar dipicu oleh belanja bahan baku penolong.
“Total nilai impor sepanjang Januari-Februari 2026 naik sebesar 14,44 persen dibanding periode yang sama tahun lalu. Andil utama peningkatan nilai impor tersebut disumbang oleh impor bahan baku penolong sebesar 6,78 persen,” jelas Ateng dikutip di Jakarta, Sabtu 4 April 2026.
Secara lebih detail, total nilai belanja bahan baku ini mencapai 29,40 miliar Dolar AS.
Beberapa barang yang paling banyak didatangkan dari luar negeri meliputi logam mulia dan perhiasan, mesin-mesin elektrik beserta suku cadangnya, hingga aneka produk kimia. Ateng menjelaskan bahwa kelompok barang inilah yang naik cukup besar.
Menariknya, terjadi pemandangan berbeda di dua sektor utama. Impor migas justru menyusut tipis 3,50 persen menjadi 5,16 miliar. Penurunan ini makin terasa jika hanya melihat data di bulan Februari saja, di mana impor migas anjlok hingga 30,36 persen secara tahunan.
Sebaliknya, sektor nonmigas justru tampil perkasa. Nilai impor nonmigas melesat hingga 17,49 persen atau setara 36,93 miliar Dolar AS. Ateng menegaskan bahwa kekuatan utama impor kita saat ini memang bersumber dari sini.
“Total nilai impor mengalami peningkatan secara tahunan, utamanya didorong oleh peningkatan nilai impor nonmigas, dengan andil 15,47 persen,” tuturnya.
Dilihat dari asalnya, barang-barang impor ini paling banyak mengalir dari China, Australia, Singapura, dan kawasan Uni Eropa. Meski begitu, ada catatan unik karena impor dari tetangga kita di kawasan ASEAN justru terlihat mengalami penurunan.
Secara keseluruhan, data ini memberikan sinyal bahwa geliat industri di Indonesia sedang bersemangat, mengingat mayoritas barang yang diimpor adalah "bahan bakar" untuk memproduksi barang lain di dalam negeri.
BERITA TERKAIT: