Namun persoalan di sisi hilir membuat pembiayaan tersebut belum sepenuhnya berdampak, hingga berujung pada kredit macet.
Demikian disampaikan Menteri Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) Maman Abdurrahman dalam acara Indonesia Ramadan Expo di Pancoran, Jakarta Selatan, Rabu, 4 Maret 2026.
“Setelah satu tahun saya jadi Menteri UMKM, ternyata akses pembiayaan dilihat dari sisi nominal sudah luar biasa,” ujar Maman.
Ia memaparkan, total kredit yang dialokasikan perbankan pada 2025 mencapai sekitar Rp8.000 triliun. Dari jumlah tersebut, hampir Rp2.000 triliun telah disalurkan ke sektor UMKM, baik melalui skema pembiayaan murni maupun nonmurni.
Secara tren, kata Maman, angka ini terus meningkat dibanding satu hingga dua dekade lalu.
Meski demikian, peningkatan alokasi kredit belum otomatis mendorong penguatan sektor UMKM secara signifikan.
Menurut Maman, persoalan muncul ketika pelaku usaha tidak mampu menjual produk mereka di pasar.
Kondisi tersebut, lanjut dia, berdampak langsung pada kemampuan bayar pelaku usaha. Ketika produk tidak terserap, usaha berhenti dan kredit menjadi bermasalah.
“Makanya saya selalu bilang bahwa NPL tinggi itu bukan serta merta hanya kesalahan pihak bank saja. Dan UMKM itu kesalahan kita semua,” kata Maman.
BERITA TERKAIT: