Pertemuan dua hari tersebut bukan sekadar seremoni, melainkan upaya memetakan solusi atas berbagai tantangan teknis demi kenyamanan para tamu Allah.
Dalam diskusi tersebut, Gus Irfan (sapaan akrab Menhaj RI) menekankan bahwa koordinasi yang solid adalah kunci utama. Segala hambatan yang muncul dalam tahap persiapan harus diidentifikasi sejak dini agar tidak mengganggu jalannya ibadah.
“Kesuksesan dalam melayani tamu Allah bukan hanya keberhasilan satu pihak, melainkan tanggung jawab kolektif. Karena itu, seluruh kendala dalam persiapan penyelenggaraan haji tahun ini harus kita inventarisir dan carikan solusi bersama,” ungkap Gus Irfan.
Fokus perbaikan mencakup aspek yang sangat luas, mulai dari optimalisasi sistem Nusuk, manajemen DAM dan Kesehatan, kualitas akomodasi, transportasi, hingga konsumsi, serta integrasi data digital untuk perlindungan jemaah.
Komitmen Arab Saudi pun tampak sangat kuat dalam pertemuan ini. Menteri Taufiq F. Al-Rabiah menegaskan bahwa keberhasilan Indonesia dalam mengelola jemaahnya adalah keberhasilan Arab Saudi juga.
Kedua menteri sepakat untuk menyingkirkan agenda lain dan mencurahkan seluruh energi demi kelancaran musim haji tahun ini.
“Kami bersepakat, tidak ada agenda lain selain menyukseskan haji tahun 2026. Energi, perhatian, dan kerja sama kita diarahkan sepenuhnya untuk itu,” tegas Gus Irfan.
Selain urusan haji, pertemuan ini juga membuka pintu bagi penguatan ekonomi dan pariwisata. Menteri Taufiq berharap ke depannya arus kunjungan wisatawan Arab Saudi ke Indonesia bisa meningkat, menjadikan momentum haji dan umrah sebagai jembatan sosial-budaya yang lebih erat.
Sebagai penutup, kedua menteri melakukan napak tilas ke sejumlah situs bersejarah di dua kota suci. Kegiatan ini menjadi pengingat spiritual akan besarnya tanggung jawab yang mereka pikul.
“Kami menyadari bahwa setiap kebijakan dan setiap keputusan pada akhirnya bermuara pada kenyamanan dan kekhusyukan ibadah jemaah. Amanah ini harus kita jaga bersama,” tutup Menhaj Taufiq.
BERITA TERKAIT: