Jokowi menilai, selama berÂtahun-tahun, pengelolaan hutan di Indonesia tidak mengalami perubahan yang baik. Masih monoton dan berorientasi proyek. Menurutnya, pola kerja saat ini harus segera dievaluasi. Dia ingin ada terobosan baru. Pengelolaan hutan tidak hanya berorientasi bisnis semata, naÂmun juga mengadung dimensi pelestarian lingkungan.
"Jangan lagi ada program-program atau rencana-rencana yang orientasinya proyek. SuÂdahi itu, hentikan itu. Sudah terlalu lama kita bekerja dengan orientasi proyek," kata Jokowi di acara puncak peringatan Hari Lingkungan Hidup di Gedung Manggala Wanabakti, Jakarta, kemarin.
Jokowi mengatakan, untuk mendapatkan terobosan tidak sulit. Karena, program bisa ditiru dari negara lain yang sukses melakukan pengelolaan hutan seperti Swedia dan Finlandia.
Dia menyebutkan perekoÂnomian Finlandia 70 sampai 80 persen karena keberhasilan pengelolaan hutan.
"Nggak sulit, tinggal dikopi kemudian disesuaikan dengan hutan kita. Itu contoh saja," katanya.
Jokowi mengancam akan membuka pihak-pihak nakal yang bermain di sektor kehuÂtanan, jika tidak ada perubahan pengelolaan hutan.
"Kita blak-blakan saja. Saya mau buka satu per satu nanti ramai. Saya sudah tahu," katanya.
Dia berharap, fungsi hutan dikelola sebagaimana mestinya sesuai aturan. Bila regulasi meÂnyuruh hutan taman nasional dilindungi, maka harus dilindungi.
Sementara itu, Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Hutan IndoÂnesia (APHI) Indroyono Soesilo menilai, kinerja Kementerian LHK sudah cukup baik. Terutama, dalam mencegah terjadinya kebakaran hutan.
"Industri sudah berkomitÂmen dengan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan untuk menjaga supaya tidak terjadi kebakaran hutan. Dan, dalam dua tahun terakhir upaya mencegah kebakaran hutan menunjukkan kemajuan," kata Indroyono kepada Rakyat Merdeka, kemarin.
Selain itu, bekas Menteri Koordinator Bidang KemaritiÂman ini menyebutkan KementeÂrian LHK juga memiliki program konservasi lahan.
Saat ditanya soal proyek keÂhutanan? Indroyono menjawab, kalau itu wilayah kewenangan pemerintah. "Kalau proyek (pengelolaan hutan-red) adanya di pemerintah bukan swasta," tegasnya.
Masih Benahi Birokrasi
Sementara itu, Menteri LHK Siti Nurbaya menilai, pidato Presiden sebagai benÂtuk pengarahan, bukan karena kecewa dengan kinerja kementeriannya.
"Di berbagai rapat kerja, Presiden sering mengingatkan birokrat agar jangan berorienÂtasi proyek, harus berani out of the box, dan kerja harus fokus. Itu pengarahan intensif terus menerus," kata Siti.
Siti memandang positif pengarahan Presiden. Hanya saja, diakuinya tidak mudah melakÂsanakannya. Karena, saat ini pihaknya masih dalam proses membenahi birokrasi. MenurutÂnya, kinerja birokrasi struktural, sementara rakyat ingin kerja cepat. Oleh karena itu, pihaknya mencari jalan agar kinerja keÂmenterian sebagai agen pelaksaÂna perintah Presiden bisa bekerja sesuai yang diharapkan.
Dia mengungkapkan, di daÂlam birokrasi ada rumus dalam menyelesaikan masalah. Jika masalahnya biasa, struktur bisa langsung menanganinya. Tapi, kalau complicated menggunaÂkan tim kerja. Kalau kompleks banget tim kerja tambah keahlian. ***
BERITA TERKAIT: