Pelemahan Rupiah Akumulasi Masalah Lintas Rezim

 LAPORAN: <a href='https://rmol.id/about/ahmad-alfian-1'>AHMAD ALFIAN</a>
LAPORAN: AHMAD ALFIAN
  • Rabu, 06 Mei 2026, 13:40 WIB
Pelemahan Rupiah Akumulasi Masalah Lintas Rezim
Dolar AS dan Rupiah. (Market Bisnis)
rmol news logo Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) sempat mengkhawatirkan karena menyentuh level terlemah sepanjang sejarah yakni i Rp17.420 per dolar AS.

Ekonom Yanuar Rizky menjelaskan, nilai tukar pada dasarnya mencerminkan dua aspek utama, yakni kondisi pasar keuangan dan sektor riil.

“Di pasar keuangan tentu karena ada transaksi keuangan dan sebagainya itu juga membentuk nilai tukar, sedangkan di pasar sektor riilnya juga terkait dengan ekspor impor dan sebagainya,” ujarnya di kanal Youtube Abraham Samad, Rabu, 6 Mei 2026.

Menurutnya, ketika rupiah melemah, hal yang perlu dicermati adalah kekuatan fundamental, khususnya dari sisi produksi di sektor riil. Ia menilai persoalan tidak bisa semata dilihat dari sentimen atau persepsi pasar.

“Kalau kita bicara nilai tukar melemah, yang perlu dipahami fundamental itu sebetulnya terkait dengan sisi produksinya sektor riilnya,” jelasnya.

Yanuar juga menyinggung pernyataan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi yang menilai pelemahan rupiah dipengaruhi persepsi yang dibangun para ekonom. 

“Kalau dia mengatakan seperti itu, dia dengan kata lain mengakui dong bahwa ekonom lebih didengar daripada dia. Lebih didengar oleh pasar,” tegasnya.

Ia mempertanyakan pihak yang sebenarnya membentuk persepsi tersebut, sembari menegaskan bahwa pelemahan rupiah tidak bisa dilepaskan dari faktor fundamental yang lemah.

“Kita bisa menjelaskan rupiah kita melemah akibat fundamental yang lemah akibat kita kalah dalam permainan persepsi. Bagaimana kita bisa mengatakan fundamentalnya tidak bermasalah ketika pendapatannya turun?” ujarnya.

Meski demikian, Yanuar menegaskan kondisi ini bukan semata kesalahan pemerintahan saat ini. Ia menyebut persoalan tersebut merupakan akumulasi struktural yang diwariskan lintas rezim, termasuk di era Presiden Prabowo Subianto.

“Saya tidak ingin menyalahkan Presiden Prabowo, ini kesalahan struktural yang diwariskan antar rezim. Ini dampak akumulasi,” katanya.

Ia pun mendorong adanya konsolidasi lintas kepemimpinan untuk memperbaiki kondisi ekonomi, termasuk dengan mengendalikan belanja negara dan membangun konsensus politik.

“Harusnya Presiden Prabowo bisa memimpin konsolidasi antar kepemimpinan ini untuk tobat bersama. Untuk memperbaiki ini gimana kalau kita sekarang mulai ngerem belanja ini belanja itu. Dukungan politik harusnya bisa dicapai oleh konsensus,” ujarnya.

Menurutnya, jika konsensus tercapai, langkah berikutnya adalah membahas pengurangan beban anggaran bersama parlemen tanpa adanya kepentingan saling menyandera.

“Kalau itu tercapai tinggal kita ke parlemen bicara bagaimana kita mengurangi beban-beban anggaran karena sudah ada konsensus tidak akan saling mengganggu. Kalau sekarang kan untuk tidak saling menyandra wani piro,” pungkasnya. rmol news logo article


EDITOR: AHMAD ALFIAN

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

FOLLOW US

ARTIKEL LAINNYA