"Untungnya tahun 2015 pemerintah mengubah keÂbijakan subsidi energi dan listrik. Kalau nggak diÂubah, habis kita," ungkap Askolani di Jakarta, Jumat (24/3).
Meskipun kontribusi miÂgas turun, Askolani mengatakan, pemerintah masih cukup baik dalam menjaga Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Hal tersebut bisa dilihat dari defisit anggaran di bawah 3 persen dari produk domesÂtik bruto (PDB).
Dia menuturkan, penuÂrunan kontribusi migas tidak hanya dialami IndoÂnesia. Tetapi, negara lain penghasil migas lain seiring terjadinya fluktuasi harga minyak.
Menteri Energi dan SumÂber Daya Mineral (ESDM) Ignasius Jonan menilai, penurunan kontribusi menÂjadi peringatan.
"Sebelumnya ada dalam pemikiran kita bahwa sumÂber daya alam itu bisa dan diharapkan yang terbesar untuk menopang pertumÂbuhan ekonomi. Sekarang tidak semata-mata begitu lagi," imbuhnya.
Jonan menegaskan, dirinya tidak bermaksud mengesampingkan pentingnya pengelolaan sumber daya alam untuk memacu perekonomian nasional.
Menurutnya, sumber daya alam memang harus dimanfaatkan semaksiÂmal mungkin. Hanya saja, harus memenuhi kaidah- kaidahnya.
Bekas Menteri Perhubungan ini menerangkan, total PDB Indonesia hamÂpir mencapai Rp 12.500 triliun. Tapi faktanya, sekÂtor kelistrikan, mineral dan batubara, maupun migas dari hulu sampai hilir tidak mencapai 15 persen.
Jonan berpandangan, di tengah menurunnya harga migas, pengelolaan sumber daya alam harus cermat. Dia menegaskan tidak keÂberatan industri melakuÂkan impor migas jika meÂmang lebih menguntungkan dibandingkan memanfaatÂkan hasil produksi dalam negeri.
"Kalau gas untuk inÂdustri yang diproduksi dalam negeri malah lebih mahal daripada yang imÂpor, kenapa tidak kalau harus impor? Atau kataÂkanlah gas dari satu daerah dikirimkan ke daerah lain, masih sama-sama di IndoÂnesia, biayanya lebih maÂhal dibandingkan impor, ya mending diizinkan impor," ujarnya.
Jonan menegaskan, efisiensi dan keunggulan kompetitif adalah prinsip kunci yang perlu dipegang di pengelolaan sumber daya alam nasional untuk mengÂhadapi dinamika pasar global sekarang. ***
BERITA TERKAIT: