Membaca Tomy Winata: Ketika Modal, Negara, dan Kekuasaan Belajar Bertahan

Kamis, 18 Juni 2026, 04:14 WIB
Membaca Tomy Winata: Ketika Modal, Negara, dan Kekuasaan Belajar Bertahan
Pengusaha Tomy Winata. (Foto: Istimewa)
ADA kalanya sebuah wawancara menjadi menarik bukan karena apa yang diucapkan, melainkan karena siapa yang mengucapkannya. Kalimat yang sama mungkin terdengar biasa jika keluar dari mulut seorang pengusaha muda, pejabat daerah, atau pengamat ekonomi televisi. 

Namun ketika kalimat itu datang dari Tomy Winata, maknanya berubah. Sebab di Indonesia, Tomy Winata bukan sekadar pengusaha. Ia adalah salah satu saksi hidup dari bagaimana modal, negara, dan kekuasaan bernegosiasi selama lebih dari tiga dekade.

Di sela perayaan ulang tahun ke-36 Discovery Kartika Plaza Hotel di Kuta, Bali, Tomy Winata tidak berbicara panjang lebar tentang investasi, geopolitik, atau kondisi ekonomi global. Ia tidak mengeluarkan angka-angka besar. Tidak pula menawarkan analisis rumit seperti yang sering dilakukan para ekonom. 

Sebaliknya, ia berbicara dengan bahasa yang nyaris terlalu sederhana untuk seorang tokoh yang selama puluhan tahun berada di jantung dunia bisnis Indonesia.

"Yang penting ikutin aturan."

"Jangan over invest."

"Indonesia dibutuhkan oleh dunia."

"Jangan terpengaruh kompor-kompor."

Empat kalimat itu terdengar ringan. Namun justru di situlah letak menariknya. Sebab sering kali, orang-orang yang telah terlalu lama berada di dalam permainan tidak lagi berbicara secara langsung. Mereka berbicara melalui prinsip-prinsip yang telah mereka pakai untuk bertahan.

Dan bertahan adalah kata kunci yang tidak bisa dilepaskan dari sosok Tomy Winata.

Indonesia telah berganti presiden berkali-kali sejak nama Tomy Winata mulai dikenal publik. Ia melewati penghujung Orde Baru, masa transisi Reformasi, pemerintahan Abdurrahman Wahid, Megawati Soekarnoputri, Susilo Bambang Yudhoyono, Joko Widodo, hingga kini memasuki era Prabowo Subianto.

Banyak konglomerat yang dulu tampak perkasa akhirnya hilang dari radar. Sebagian tersingkir oleh perubahan politik. Sebagian tumbang karena krisis. Sebagian gagal membaca arah zaman. Namun Tomy Winata tetap ada.

Fakta inilah yang membuat satu kalimat dalam wawancaranya layak diperhatikan lebih jauh. Ketika ditanya mengenai keberlangsungan Discovery Kartika Plaza Hotel selama lebih dari tiga dekade, ia secara terbuka menyebut dukungan Yayasan Kartika Eka Paksi dan Inkopad sebagai bagian dari perjalanan tersebut. Bagi sebagian orang, pernyataan itu mungkin hanya terdengar sebagai ucapan terima kasih.

Namun bagi mereka yang memahami sejarah ekonomi-politik Indonesia, penyebutan dua institusi tersebut membuka sebuah jendela yang lebih besar mengenai bagaimana hubungan antara modal dan negara bekerja di republik ini.

Perlu dipahami bahwa hubungan dunia usaha dengan institusi militer bukanlah sesuatu yang lahir kemarin sore. Sejak era Orde Baru, militer memiliki berbagai instrumen ekonomi yang memungkinkan mereka membangun hubungan dengan dunia usaha.

Sebagian hubungan itu bertahan, sebagian berubah bentuk, dan sebagian lagi beradaptasi mengikuti perkembangan zaman. Ketika Tomy Winata menyebut nama Inkopad secara terbuka pada 2026, yang menarik bukan kedekatannya dengan institusi tersebut.

Yang menarik adalah bagaimana relasi semacam itu tetap relevan setelah Reformasi berlangsung lebih dari seperempat abad.

Sejarah menunjukkan bahwa beberapa simpul kekuasaan dalam ekonomi-politik Indonesia tidak pernah benar-benar terputus. Mereka tidak selalu hilang ketika rezim berganti, melainkan beradaptasi, berganti bentuk, dan menemukan cara baru untuk tetap relevan di setiap zaman. 

Banyak orang menganggap Reformasi 1998 sebagai titik putus antara Indonesia lama dan Indonesia baru. Dalam praktiknya, sejarah sering kali berjalan jauh lebih rumit. Yang berubah bukan selalu para pemainnya, melainkan aturan mainnya. 

Sebagian tokoh hilang bersama zamannya, sebagian lagi mampu menyesuaikan diri dengan perubahan yang terjadi. Tomy Winata tampaknya termasuk kelompok kedua.

Di sinilah Tomy Winata menjadi menarik untuk dibaca sebagai fenomena kekuasaan, bukan sekadar fenomena bisnis.

Banyak pengusaha sukses memiliki uang. Banyak pula yang memiliki akses politik. Namun tidak semua mampu mempertahankan relevansi ketika lanskap kekuasaan berubah.

Di Indonesia, sejarah menunjukkan bahwa kekayaan sering kali tidak cukup untuk menjamin kelangsungan pengaruh. Yang jauh lebih penting adalah kemampuan memahami arah perubahan sebelum perubahan itu benar-benar terjadi.

Mungkin karena itulah Tomy Winata terdengar begitu tenang ketika banyak orang justru sibuk membicarakan krisis.

Saat nilai tukar rupiah bergejolak, ketika perang dagang menjadi ancaman baru, dan ketika berbagai kelompok sibuk meramalkan masa depan Indonesia dengan nada pesimistis, ia justru memilih berbicara mengenai disiplin investasi.

Ia tidak mengatakan bahwa ekonomi sedang baik-baik saja. Ia juga tidak mengatakan bahwa tantangan tidak ada. Namun ia mengingatkan agar orang tidak melakukan investasi yang melampaui kemampuan mereka.

Pesan itu terdengar sederhana, tetapi sebenarnya mengandung filosofi yang jauh lebih dalam. Dalam dunia bisnis, banyak perusahaan tidak runtuh karena kekurangan peluang. Mereka runtuh karena terlalu agresif mengejar peluang. Mereka tumbang bukan karena tidak percaya diri, melainkan karena terlalu percaya diri.

Tomy Winata tampaknya memahami bahwa umur panjang sering kali lebih berharga daripada pertumbuhan yang spektakuler tetapi rapuh.

Di sela-sela percakapan, ia juga menyelipkan satu kalimat yang terdengar seperti candaan tetapi mengandung makna yang lebih luas.

"Dikit-dikit lah, tapi jangan nyolong. Kebanyakan ditangkep."

Kalimat itu disampaikan sambil tertawa. Namun dalam konteks maraknya penegakan hukum terhadap berbagai kasus korupsi dan penyalahgunaan kewenangan beberapa tahun terakhir, ucapan tersebut terdengar seperti pengingat sederhana bahwa keberhasilan bisnis pada akhirnya tetap harus bergerak dalam batas-batas hukum yang berlaku. 

Entah itu disampaikan sebagai guyonan atau refleksi pengalaman panjang, kalimat itu menunjukkan kesadaran bahwa tidak semua hal bisa diselesaikan dengan kekuatan modal semata.

Pandangan serupa terlihat ketika ia berbicara mengenai Bali. Ketika banyak pihak mengeluhkan kemacetan, tekanan lingkungan, dan dampak sosial dari pertumbuhan pariwisata yang tidak terkendali, ia menggunakan metafora lima jari tangan.

"Jari kita ada lima, tidak semua sama panjang."

Kalimat itu bisa dibaca dalam banyak cara. Sebagian mungkin melihatnya sebagai ajakan untuk menerima kenyataan bahwa pertumbuhan selalu menghasilkan ketimpangan. Sebagian lain mungkin melihatnya sebagai pengingat bahwa tidak ada pembangunan yang berjalan sempurna.

Apa pun tafsirnya, satu hal terlihat jelas: Tomy Winata tidak melihat persoalan sebagai alasan untuk berhenti bergerak. Ia melihatnya sebagai konsekuensi yang harus dikelola. Pendekatan seperti ini menjelaskan mengapa ia berkali-kali kembali pada kata yang sama: aturan.

Bagi sebagian orang, aturan adalah batasan. Bagi pemain lama seperti Tomy Winata, aturan justru merupakan peta. Aturan menunjukkan arah kekuasaan bergerak. Aturan menunjukkan apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan.

Dan yang terpenting, aturan menunjukkan bagaimana seseorang bisa tetap relevan tanpa harus berada di garis depan panggung politik.

Barangkali di situlah letak pelajaran terbesar dari wawancara singkat tersebut.

Tomy Winata tidak bertahan selama empat dekade karena selalu menjadi orang paling kuat. Ia juga tidak bertahan karena selalu menjadi orang paling kaya.

Yang membuatnya bertahan bukan semata modal yang besar atau akses yang luas, melainkan kemampuan membaca hubungan antara negara, kekuasaan, dan perubahan zaman dengan tingkat ketepatan yang jarang dimiliki banyak orang.

Bisa saja ia salah membaca masa depan Indonesia. Bisa saja tantangan ekonomi global beberapa tahun ke depan jauh lebih berat daripada yang diperkirakan.

Namun sejarah menunjukkan bahwa orang-orang seperti Tomy Winata tidak terbentuk oleh satu periode pemerintahan atau satu siklus ekonomi. Mereka dibentuk oleh kemampuan beradaptasi terhadap perubahan yang terus berlangsung.

Dan mungkin itulah alasan mengapa, ketika banyak orang sibuk meramal krisis, Tomy Winata justru memilih berbicara tentang disiplin, aturan, dan persatuan. 

Karena setelah puluhan tahun berada di dekat pusat gravitasi kekuasaan Indonesia, ia tampaknya memahami satu hal yang sering dilupakan banyak orang: dalam politik maupun bisnis, ancaman terbesar bukanlah perubahan itu sendiri, melainkan kegagalan membaca ke mana perubahan itu sedang bergerak.rmol news logo article

Giostanovlatto
Founder Hey Bali

FOLLOW US