NTP nasional Maret 2016 tercatat sebesar 101,32 atau turun 0,89 persen dibanding Februari. Penurunan juga terjadi pada NTP subsektor tanaman pangan yang anjlok ke angka 100,69 dari bulan sebelumnya 103,31. Termasuk NTP subsektor perkebunan rakyat.
Ketua Serikat Petani Indonesia (SPI) Lampung, Mukhlasin memaparkan, data yang dimilikinya, harga Gabah Kering Panen (GKP) berkisar Rp 3.500 per kilogram, sedang Gabah Kering Giling (GKG) dihargai Rp 4 ribu per kg. Harga ini, menurut dia, bahkan lebih rendah dari Harga Pembelian Pemerintah yang menetapkan GKP sebesar Rp 3.700/kg dan GKG dihargai Rp. 4.600/kg.
"Kelebihan pasokan beras saat panen raya dan kekacauan rantai dagang beras -kartel menjadi faktor yang paling mempengaruhi," terang Ketua Umum SPI, Henry Saragih.
Ia melanjutkan, dalam beberapa bulan belakangan kenaikan harga pangan juga tidak dinikmati langsung oleh petani, khususnya petani padi dan peternak unggas.
"Kartel harga pangan diduga keras menjadi biang kerok ketimpangan ini," tegasnya.
Di sisi lain, tanaman pangan, indeks jagung juga turun dari 135.84 ke 134.48. Ini berarti petani jagung wajib waspada. Dikaitkan dengan rencana pemerintah untuk meluncurkan benih jagung transgenik/GMO RR NK 603 produksi Monsanto, menurut Henry, kebijakan itu justru akan terus memperparah sektor pangan nasional karena kartel dan dominasi harga ala perusahaan besar.
Lebih parah dari NTP tanaman pangan, NTP perkebunan rakyat berada pada posisi terburuk. Menurut Ketua SPI Sumatera Selatan, Didi Fitriadi, harga karet yang anjlok di kisaran Rp 5.800-6.500/kg ternyata menjadi penyebab utama.
Akibat penurunan harga internasional ini, penerimaan petani jadi seret. NTP perkebunan rakyat akhirnya terjerembab dalam tren negatif sejak Desember 2014.
Sementara itu, NTP subsektor hortikultura Maret 2016 naik tipis (0,58 persen). Ada kenaikan harga di berbagai komoditas kelompok sayur-sayuran, terutama bawang merah dan cabai merah. Sayangnya, kenaikan NTP hortikultura tidak mampu mendongkrak NTP nasional.
NTP kan indikator yang bisa menyatakan kalau program pemerintah tidak berjalan untuk petani. Pasti ada yang salah koordinasi, atau salah sasaran," tengarai Henry.
Dalam jangka menengah, SPI mewaspadai tren harga gabah dan beras yang masih fluktuatif, seiring dengan panen raya padi yang masih berlangsung hingga Mei 2016. Lalu ada juga ancaman gagal panen karena La Nina. Terakhir, harga komoditas perkebunan yang kian jatuh.
"Pemerintah harus berkoordinasi, lalu luncurkan program jangka pendek yang jitu agar NTP terkerek naik. Program ini harus cepat lugas dan sesuai dengan kedaulatan pangan di Nawa Cita. Pemerintah selalu bisa bekerja sama dengan organisasi tani," tutup Henry.
[wid]
BERITA TERKAIT: