Pengamat mata uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi menilai kenaikan harga minyak belakangan ini dipengaruhi pernyataan Presiden AS Donald Trump hingga pasokan berlebih atau
oversupply.
Menurut Ibrahim, sebelumnya harga minyak sempat turun ke kisaran 72 dolar AS per barel sebelum kembali naik ke level 76 dolar AS pada penutupan perdagangan hari ini.
"Memang saat ini minyak mentah itu terjadi
oversupply," kata Ibrahim dalam keterangannya pada Sabtu, 20 Juni 2026.
Sebelumnya, Trump menyebut cadangan minyak Negeri Paman Sam berpotensi menipis dalam beberapa pekan ke depan. Pernyataan tersebut, kata Ibrahim membuat harga minyak kembali melonjak.
“Kenapa harga minyak ini naik? Nah ini yang lucu. Trump setelah melakukan penandatangan MOU antara Amerika dan Iran, Trump sendiri mengatakan bahwa cadangan minyak Amerika dalam empat pekan ke depan kemungkinan besar akan habis,” kata Ibrahim.
Selain itu, pasar juga masih mencermati perkembangan di Selat Hormuz yang menjadi jalur penting distribusi energi dunia.
Meski jalur tersebut berpotensi kembali dibuka penuh, pelaku pasar masih memperhitungkan berbagai risiko yang dapat memengaruhi kelancaran pengiriman minyak.
"Kemungkinan besar 80 juta barel per hari itu akan keluar. Tetapi harus ingat, itu akan melalui kontrol yang ketat dari Garda Revolusi Iran," kata Ibrahim.
BERITA TERKAIT: