Selama ini, kepemilikan investor asing terhadap perusahaan pertambangan di Indonesia tetap dominan. Perusahaan asing belum terlalu terbuka untuk menggandeng investor nasional untuk bersama-sama mengeksplorasi kekayaan alam Indonesia.
Untuk itu, keputusan Newmont selaku investor global yang memiliki saham di PT NNT melalui Nusa Tenggara Partnership BV (NTP) sebanyak 56 persen, menjadi contoh ideal bagi investasi perusahaan tambang di Indonesia.
Direktur Eksekutif Indonesia Resources Studies (IRESS), Marwan Batubara, mengatakan, transaksi ini sangat positif untuk mendukung kebijakan pemerintah dalam meningkatkan kemandirian ekonomi nasional.
Dengan berkurangnya dominasi investor asing di sektor pertambangan, maka perusahaan nasional atau investor nasional dapat memaksimalkan peranannya di sektor tersebut.
"Sekarang ada swasta nasional yang mau membeli, ya kita dukung. Pada prinsipnya kalau swasta nasional semakin maju, ya kita juga senang. Mereka bisa bayar pajak di sini. Diolah di sini sebelum diekspor. Keuntungannya kan bisa diputar lagi di sini, kan artinya positif untuk rakyat," kata Marwan, ketika dihubungi wartawan.
PT NNT di Pulau Sumbawa provinsi NTB, memiliki beberapa area pertambangan yaitu di Batu Hijau, Dodo, Rintih dan Elang. Saat ini yang sudah dieksplorasi baru di area Batu Hijau yang mendapatkan izin kontrak karya pada tahun 1986 dengan cadangan diperkirakan mencapai 6,2 miliar pon tembaga atau 690 ribu ton emas.
Sebelumnya, Anggota Komisi VII DPR RI dari Daerah Pemilihan Nusa Tenggara Barat (NTB), Kurtubi. Ia menyatakan,akuisisi saham Newmont oleh perusahaan nasional juga sejalan dengan kebijakan divestasi perusahaan pertambangan Pemerintahan Presiden Joko Widodo yang mengharapkan ada transfer penguasaan sumber daya alam dari asing ke dalam negeri.
[ald]
BERITA TERKAIT: