Corporate Secretary PT KiÂmia Farma Djoko Rusdianto meÂngatakan, merger bukan hal muÂdah. Sebab, masing-masing peÂruÂsahaan meÂmiliki rencana dan program yang berbeda-beda.
“Sampai kini rencana merger masih tahap pembahasan,†cetus Djoko kepada wartawan di JaÂkarta, kemarin.
Rencana pemerintah menggaÂbungkan Kimia Farma dengan InÂdofarma sudah bergulir sejak tahun 2009. Merger dilakukan agar kedua perusahaan bisa leÂbih kuat menghadapi persaiÂngÂan bisÂnis obat-obatan. ApaÂlagi, ladang bisnis kedua perusaÂhaan BUMN ini hampir sama.
Djoko mengungkapkan, pada awal tahun lalu pihaknya menÂdapat keputusan dari pemeÂrinÂÂtah. Kepemilikan saham peÂmerintah ingin diserahkan sepeÂnuhnya keÂpada Kimia Farma.
NantiÂnya, InÂdofarma akan menÂjadi anak peÂrusahaan baru. Nah, setelah dilaÂkukan merger atau akuisisi, baru dilakukan
right issÂue sebesar 30 persen unÂtuk eksÂpansi bisnis.
Menanggapi informasi itu, DiÂrektur Utama PT Indofarma Tbk Elfiano Rizaldi justru memÂbeÂrikan inforÂmasi yang mengÂamÂbang. Dia biÂlang, sinergi antar kedua perusaÂhaan meruÂpakan hal lumrah dan bisa membawa damÂpak positif. Tetapi, Elfino tidak bisa memastikan kapan merger akan selesai.
“Akuisisi atau merger adalah
domain-nya pemegang saham. Jadi direksi hanya merekomenÂdaÂsikan usulan dari para peÂmeÂgang saham,†cetus Elfino.
Soal keputusan pemerintah tenÂtang merger, Elfiano mengÂaku beÂlum menerimanya.
“DeadÂline (merÂger) kami belum terima. KeÂmungÂkinan tahun ini juga,†ujarnya.
Dia menuturkan, sinergi untuk memajukan usaha tidak harus melalui akuisisi atau merger peÂruÂsahaan. Menurutnya, bisa juga dengan cara melakukan komuÂniÂkasi dan kerja sama yang lebih intensif antar BUMN.
Diduga, kedua BUMN ini teÂngah berebut menjadi
olding (induk usaha) jika di-merger. Sebab, sebagai
holding, maka komÂposisi direksi, karyawan maupun aset akan lebih aman.
Menteri BUMN Dahlan Iskan belum lama ini memastikan renÂcana menggabungkan antara KiÂmia Farma dan Indofarma maÂsih terus berjalan. “Masih berÂjalan, nantinya InÂdofarma dan KiÂmia Farma benÂtukÂnya
olding, bukan merger,†terang Dahlan.
Dahlan mengatakan, lambanÂnya proses penggabungan dua peÂrusahaan bukan disebabkan proÂgram
olding tidak berjalan baik, tapi lantaran masih menunggu keÂputusan kedua belah pihak.
“KaÂlau memang program ini tidak jalan, bukan karena progÂram ini tidak baik, tapi masih menunggu keputusan. Ada diÂrekÂsi yang seÂtuju, tapi ada yang biÂlang tidak setuju,†paparnya.
Dia sempat mengancam akan mencopot diÂrekÂsi yang menolak merger tersebut. Dahlan meneÂgaskan, kedua perusahaan ini beÂlum meÂnenÂtukan siapa yang nanÂtinya akan menjadi induk peruÂsahaan dan anak perusahaan.
Analis pasar modal dari Trust Securities Reza PriyamÂbaÂdha meÂnyayangkan proses merÂger InÂdoÂfarma dan Kimia Farma yang berÂjalan alot. “Kalau kedua peÂruÂsaÂhaan merÂger, tentu akan seÂmakin baÂgus. Perusahaan ini bisa menÂjadi perusahaan farmasi besar dan kuat,†jelas Reza.
Dia memastikan isu merger keÂdua BUMN itu tidak berdampak negatif terhadap citra kedua peÂrusahaan. Pasalnya, kinerja keÂdua perusahaan cukup bagus.
Justru dampak negatif dari alotÂnya merger tersebut, kata Reza, diarahÂkan ke KeÂmenÂterian BUMN. Sebab, KeÂmenterian ini dinilai tiÂdak berÂhasil menÂcapai target eksÂpansinya. [Harian Rakyat Merdeka]
Jadikan RMOL.ID sumber pilihan pencarian Google
BERITA TERKAIT: