Indofarma & Kimia Farma Berebut Menjadi Holding

Jumat, 12 April 2013, 08:30 WIB
Indofarma & Kimia Farma Berebut Menjadi Holding
Kimia Farma
rmol news logo .Rencana merger dua BUMN obat-obatan, yakni PT Kimia Farma Tbk dan PT Indofarma Tbk masih alot. Menteri BUMN Dahlan Iskan menuding ada direksi yang menolak rencana merger.

Corporate Secretary PT Ki­mia Farma Djoko Rusdianto me­ngatakan, merger bukan hal mu­dah. Sebab, masing-masing pe­ru­sahaan me­miliki rencana dan program yang berbeda-beda.

“Sampai kini rencana merger masih tahap pembahasan,” cetus Djoko kepada wartawan di Ja­karta, kemarin.

Rencana pemerintah mengga­bungkan Kimia Farma dengan  In­dofarma sudah bergulir sejak tahun 2009. Merger dilakukan agar kedua perusahaan bisa le­bih kuat menghadapi persai­ng­an bis­nis obat-obatan. Apa­lagi, ladang bisnis kedua perusa­haan BUMN ini hampir sama.

Djoko mengungkapkan, pada awal tahun lalu pihaknya men­dapat keputusan dari peme­rin­­tah. Kepemilikan saham pe­merintah ingin diserahkan sepe­nuhnya ke­pada Kimia Farma.

Nanti­nya, In­dofarma akan men­jadi anak pe­rusahaan baru.  Nah, setelah dila­kukan merger atau akuisisi, baru dilakukan right iss­ue sebesar 30 persen un­tuk eks­pansi bisnis.

Menanggapi informasi itu, Di­rektur Utama PT Indofarma Tbk Elfiano Rizaldi justru mem­be­rikan infor­masi yang meng­am­bang. Dia bi­lang, sinergi antar kedua perusa­haan meru­pakan hal lumrah dan bisa membawa dam­pak positif. Tetapi, Elfino tidak bisa memastikan kapan merger akan selesai.

“Akuisisi atau merger adalah domain-nya pemegang saham. Jadi direksi hanya merekomen­da­sikan usulan dari para pe­me­gang saham,” cetus Elfino.

Soal keputusan pemerintah  ten­tang merger, Elfiano meng­aku be­lum menerimanya. “Dead­line (mer­ger) kami belum terima. Ke­mung­kinan tahun ini juga,” ujarnya.
Dia menuturkan, sinergi untuk memajukan usaha tidak harus melalui akuisisi atau merger pe­ru­sahaan. Menurutnya, bisa juga dengan cara melakukan komu­ni­kasi dan kerja sama yang lebih intensif antar BUMN.

Diduga, kedua BUMN ini te­ngah berebut menjadi olding (induk usaha) jika di-merger. Sebab, sebagai holding, maka kom­posisi direksi, karyawan maupun aset akan lebih aman. 

Menteri BUMN Dahlan Iskan belum lama ini memastikan ren­cana menggabungkan antara Ki­mia Farma dan Indofarma ma­sih terus berjalan. “Masih ber­jalan, nantinya In­dofarma dan Ki­mia Farma ben­tuk­nya olding, bukan merger,” terang Dahlan.

Dahlan mengatakan, lamban­nya proses penggabungan dua pe­rusahaan bukan disebabkan pro­gram olding tidak berjalan baik, tapi lantaran masih menunggu ke­putusan kedua belah pihak. 

“Ka­lau memang program ini tidak jalan, bukan karena prog­ram ini tidak baik, tapi masih menunggu keputusan. Ada di­rek­si yang se­tuju, tapi ada yang bi­lang tidak setuju,” paparnya.

Dia sempat mengancam akan mencopot di­rek­si yang menolak merger tersebut. Dahlan mene­gaskan, kedua perusahaan ini be­lum me­nen­tukan siapa yang nan­tinya akan menjadi induk peru­sahaan dan anak perusahaan.

Analis pasar modal dari Trust Securities Reza Priyam­ba­dha me­nyayangkan proses mer­ger In­do­farma dan Kimia Farma yang ber­jalan alot. “Kalau kedua pe­ru­sa­haan mer­ger, tentu akan se­makin ba­gus. Perusahaan ini bisa men­jadi perusahaan farmasi besar dan kuat,” jelas Reza.

Dia memastikan isu merger ke­dua BUMN itu tidak berdampak negatif terhadap citra kedua pe­rusahaan. Pasalnya, kinerja ke­dua perusahaan cukup bagus.

Justru dampak negatif dari alot­nya  merger tersebut, kata Reza, diarah­kan ke Ke­men­terian BUMN. Sebab, Ke­menterian ini dinilai ti­dak ber­hasil men­capai target eks­pansinya. [Harian Rakyat Merdeka]


Jadikan RMOL.ID sumber pilihan pencarian Google

FOLLOW US

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari RMOL.ID di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

ARTIKEL LAINNYA