“Sapi terintegrasi dengan tanaman tebu makanya disebut sate,†kata Direktur Utama RNI Ismed Hasan Putro, kemarin.
Dari total area pabrik gula (PG) Jatitujuh seluas 12.000 hektar, sebanyak 8.000 hektar di antaranya digunakan untuk perkebunan tebu, sisanya 4.000 hektar lainnya untuk fasilitas umum seperti jalan dan rumah pegawai. Di pusat penggemukan dan RPH ini, RNI bisa menggemukan 500 ekor sapi. Para sapi tersebut bisa memakan hasil limbah tebu yang tidak terpakai hasil pabrik.
“Tetes tebu dan pucuk tebu terhadap sapi itu sangat kompetitif konsentratnya dengan dikombinasikan dedak, rumput gajah dan ampas tahu,†jelasnya.
Nantinya, penggemukan sapi dengan pakan ternak tanaman tebu akan bersinergi dengan RPH modern yang akan selesai 10 November 2013.
RPH Jatitujuh ini memiliki kapasitas pemotongan 30.000 ekor sapi per tahun atau sekitar 2.500 ekor sapi per bulan atau 100 ekor per hari.
Menurut Ismed, RPH ini memiliki luas 4 hektar dengan biaya investasi yang diperlukan untuk membangun RPH ini senilai Rp 25 miliar. [Harian Rakyat Merdeka]
Jadikan RMOL.ID sumber pilihan pencarian Google