Aneh, Pasokan Daging Melimpah Tapi Harganya Kok Terus Meroket

Kementan Janji Tingkatkan Populasi Sapi Dan Menekan Impor

Minggu, 17 Februari 2013, 07:58 WIB
Aneh, Pasokan Daging Melimpah Tapi Harganya Kok Terus Meroket
ilustrasi, Daging sapi
rmol news logo .Mahalnya harga daging sapi di pasaran membuat minat masyarakat membeli daging menjadi berkurang. Hal ini dikeluhkan para pedagang karena berdampak pada keuntungan yang turun drastis.

Salah seorang pedagang da­ging sapi di Pasar Kramat Jati, Her­man berharap pemerintah se­gera menstabilkan harga daging sapi. Dengan demikian, ma­syarakat akan berminat membeli daging sapi lagi.

“Sejauh ini pasokan daging tidak ada masalah, bahkan me­lim­pah. Tapi harganya masih tinggi, itu membuat kami susah men­jualnya. Saat ini saja kita kehi­langan 50 persen penda­patan,” kata Herman.

Ia mengungkapkan, saat ini harga rata-rata daging sapi cen­derung di kisaran Rp 90 ribu per kilogram (kg). Harga tersebut sudah berlang­sung sejak awal tahun ini.Herman mengatakan, untuk beberapa pekan ini memang tidak ada kenaikan harga, tapi dia tetap berharap harganya kembali nor­mal seperti dulu. Paling tidak Rp 80 ribu per kg.

Selama ini, kata dia, harga da­ging sapi mencapai Rp 90 ribu per kg, omset penjualan daging sa­pi hanya mencapai 10 kg per hari. Jumlah ini jauh lebih se­dikit saat harga daging sapi masih nor­mal. “Sepi jualannya. Biasa kita jual 30-45 kg per hari, sekarang 10 kg per hari saja sulit,” keluh Herman.

Namun, Kementerian Per­ta­nian (Ke­men­tan) masih yakin swa­sem­bada daging akan tercapai pada 2014. Walaupun impor daging sapi masih tinggi.

Dirjen Peternakan Kementan Syukur Iwantoro mengatakan, populasi sapi dari tahun ke tahun selalu mengalami peningkatan.

Ia mengungkapkan, pada 2011 jumlah sapi 15,421 ekor dan di 2012 meningkat menjadi 16.656 ekor. “Kita masih yakin swa­sem­bada bisa tercapai bila men­dapatkan dukungan dari segala instansi, baik pemerintah maupun masyarakat,” katanya.

Kader Partai Keadilan Se­jah­tera (PKS) ini akan terus me­ning­katkan populasi sapi dan me­nekan impor hingga impor hanya 10 persen. Selain itu, pemerintah juga berkerja sama dengan Kementerian BUMN dan Ke­menterian Perhu­bungan mem­perbaiki distribusi dan trans­portasi sapi.

“Mulai Febuari 2013 akan disediakan gerbong khusus daging oleh PT KAI dari Provinsi Jawa Timur ke Jakarta. Sedang­kan pengangkutan sapi antar pulau akan diangkut oleh PT PELNI.  April depan siap ber­operasi,” tuturnya.

Perhimpunan Peternak Sapi dan Kerbau Indonesia (PPSKI) Teguh Boediyana mengung­kapkan, 83 persen kebutuhan daging sapi nasional bisa tercu­kupi dari pasokan dalam negeri.

“Yang terpenting impor itu tidak mematikan harga daging sapi lokal,” kata Teguh.

Menurut dia, peternak sapi dalam negeri tidak bisa dipotong setiap saat. Namun, hampir 99 persen sapi dikelola masyarakat baru akan dipotong atau dijual jika membutuhkan uang.

“Kita nggak bisa maksa peternak sapi menjual dan jangan sampai sapi betinanya pun ikut dipotong,” ucapnya.

Impor daging sapi, kata Teguh, boleh saja dilakukan saat ini karena sapi lokal belum bisa memenuhi kebutuhan nasional. Akan tetapi, kran impor jangan berlebihan, seperti tahun 2009 dan 2010 yang sangat merugikan peternak sapi dalam negeri.

“Kalau impor besar, itu yang senang importir bukan masya­rakat. Pemerintah kan menca­nangkan swasembada daging dan pemerintah harus pro rakyat,” tegasnya.

Mengenai kualitas daging sapi lokal, Teguh berkeyakinan da­ging sapi lokal tidak kalah ber­saing dengan daging sapi impor. “Sapi lokal digemukkan secara alami tidak menggunakan bahan kimia apapun, sehingga berkua­litas baik. Karena itu, daging sapi lokal lebih bagus,” tuturnya. [Harian Rakyat Merdeka]


Jadikan RMOL.ID sumber pilihan pencarian Google

FOLLOW US

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari RMOL.ID di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

ARTIKEL LAINNYA