Dalam paparan di Komisi VII DPR, PLN menyatakan konsumÂsi BBM pada 2012 mencapai 8,2 juta kiloliter (KL) atau 12,3 perÂsen di atas target yang telah ditetapkan sebesar 7,3 juta kiloliter.
Direktur Eksekutif Energy Watch Mamit Setiawan menilai PLN sangat boros menggunakan BBM seperti solar untuk pembangkitnya. Padahal masih banyak sumber-sumber energi alternatif lain seperti gas dan batubara. “SaÂyangÂnya itu belum dimaksiÂmalÂkan semuanya,†katanya kepada
Rakyat Merdeka, kemarin.
Menurut dia, memang tidak mudah mengganti kebiasaan menggunakan BBM ke gas. Bahkan, sulit menutup mata soal dugaan ada mafia BBM untuk pembangkit di PLN. “PengguÂnaan BBM ini sudah lama dilaÂkukan, kemungkinan ada yang bermain. Dalam tanda kutip pasti ada,†ungkap Mamit.
Dia juga menilai, terlambatnya pembangunan proyek 10 ribu megawatt yang rencananya menggunakan energi baru dan terÂbarukan sulit direalisasikan. Padahal, kebijakan ini untuk melepas keÂtergantungan PLN terhadap BBM.
Sebab, menurut Mamit, jika proyek itu jadi maka sebagian pihak yang selama ini bermain BBM di PLN akan terganggu. Karena itu, untuk mengantisipasi adanya permainan tersebut, transparansi kebutuhan BBM untuk pembangkit harus dilakuÂkan, sehingga kebutuhan untuk pembangkit ketahuan per harinya dan lonjakan penggunaan bensin bisa ditekan.
Selain itu, pemerintah juga harus cepat membangun infraÂstrukÂtur dan memenuhi pasokan gas untuk PLN. “Jika itu bisa dipeÂnuhi tidak ada lagi alasan bagi PLN untuk tetap mengguÂnakan BBM tersebut,†katanya.
Anggota Komisi VII DPR Dewi Aryani menambahkan, konsumsi BBM untuk pemÂbangÂkit PLN akan terus berlanjut selama belum ada pembaharuan jenis pembangÂkit. Karena itu, poÂlitisi PDIP ini mendorong pemÂbangunan pemÂbangkit berbasis gas atau sumber energi alternatif lainnya.
Manajer Senior Komunikasi Korporat PLN Bambang DwiÂyanto yang dikonfirmasi
Rakyat Merdeka membantah adanya duÂgaÂan mafia yang bermain di peÂruÂsahaannya. “Tidak ada mafia BBM untuk pembangkit,†tegasnya.
Bahkan, kata dia, saat ini jumÂlah pembangkit yang mengÂgunakan BBM sudah berkurang. “Saat ini tinggal 15 persen. SeÂdangkan pembangkit listrik batubara terus naik dan saat ini suÂdah 51 persen dan akan terus naik. Tidak benar adanya mafia BBM,†katanya.
Dia lantas mengatakan, melonÂjakÂnya konsumsi BBM untuk pemÂbangkit yang melebihi target terÂjadi karena pertumbuhan penÂjualan listrik yang ditargetkan 7 perÂsen pada 2012. Namun, ternyata tumÂbuh sampai 10 persen.
Faktor lainnya yakni belum terÂlambatnya penyelesaikan proyek 10 ribu megawatt. Saat ini rasio elektrifikasi terus naik seiring pertumbuhan perekonomian.
Direktur Utama PLN Nur Pamudji mengatakan, angka pemakaian BBM 2012 lebih rendah dari realisasi 2011 yang mencapai 11,4 juta KL. PemaÂkaian BBM tahun lalu turun 3,2 juta KL dibanding 2011.
Dirjen Ketenagalistrikan KeÂmenÂterian Energi dan Sumber DaÂya Mineral (ESDM) Jarman meÂngatakan, konsumsi BBM untuk pembangkit PLN pada 2013 ditargetkan turun 1,5 juta KL dari tahun sebelumnya yang sebesar 8,2 juta. Penurunan konsumsi BBM terjadi karena PLN mengganti bahan bakar dengan menggunakan gas, batubara dan energi baru terbarukan (EBT).
Sebelumnya, Dirjen Anggaran Kementerian Keuangan (KemenÂkeu) Herry Purnomo juga meÂminÂta perusahaan listrik itu menguÂrangi ketergantungan kepada BBM karena akan berÂdampak melonÂjaknya anggaran subsidi.
Menurut Herry, pengurangan beban akibat subsidi listrik tidak semata-mata dengan cara meÂnaikkan tarif tarif dasar listrik (TDL). Di samping melakukan upaya penurunan subsidi, PLN juga harus mengikuti kebijakan-kebijakan terkait penggunaan bahan bakar. [Harian Rakyat Merdeka]
Jadikan RMOL.ID sumber pilihan pencarian Google
BERITA TERKAIT: