Heran, Kalau Menteri Hatta Tidak Tahu Ganasnya Aksi Kartel Pangan

Sabtu, 09 Februari 2013, 07:59 WIB
Heran, Kalau Menteri Hatta Tidak Tahu Ganasnya Aksi Kartel Pangan
Hatta Rajasa
Kecil Besar
rmol news logo Menko Perekonomian Hatta Rajasa menegaskan, jika benar ada praktik kartel di sektor pa­ngan, dirinya siap turun bersama-sama untuk memberantas.

“Kalau ada kartel kita sikat ra­mai-ramai karena praktik itu me­nyengsarakan rakyat. Jangan sam­pai ada kartel di negeri ini, apalagi memainkan harga,” kata Hatta di Istana Presiden, Jakarta, kemarin.
Namun demikian, Ketua Umum DPP Partai Amanat Na­sional (PAN) ini mengisratkan ti­dak mau gegabah. Dia ingin menge­cek dulu pola pasokan dan perdagangan pangan. Misalnya soal daging. Badan Pusat Statistik (BPS) pernah melaporkan jumlah konsumsi daging masyarakat Indo­nesia naik dari 1,9 kilogram per kapita per tahun menjadi 2,2 kilogram per kapita per tahun.

Se­men­tara jumlah impor da­ging ber­kurang. Menurutnya, se­baik­nya dibalik kenaikan harga perlu dipastikan dulu penye­babnya.

Dia menuturkan, kewenangan penentuan kuota impor pangan berada di Kementerian Pertanian. Pihaknya hanya sebatas melaku­kan koordinasi. Tapi, Hatta janji akan  mengkaji ulang data impor. “Kita akan lihat apakah data yang ada akurat,” katanya.

Soal pertemuan dengan Presi­den, Hatta menerangkan, dia me­laporkan kondisi harga pangan. Salah satunya, masalah tren harga daging yang terus naik. Menurut­nya, Presiden SBY memerintah­kan dirinya agar melakukan pe­ngen­dalian. Untuk mengatasi ma­salah itu, SBY akan memanggil Men­teri Pertanian Suswono guna meminta penjelasan.

Dugaan terjadi praktik kartel pangan dua hari lalu disampaikan Komisi Pengawasan dan Per­sai­ngan Usaha (KPPU) dan Kamar Dagang dan Industri (Kadin).

Ketua Kadin Bidang Pem­ber­dayaan Daerah dan Bulog, Natsir Mansur mensinyalir ada enam komoditas dikuasai kartel dengan nilai Rp 11,3 triliun.

Keenam komoditas itu yakni, daging sapi, daging ayam, gula, ke­delai, jagung dan beras. Me­nu­rutnya, praktik tersebut terjadi karena pemerintah tidak mela­kukan pembenahan.

Adanya aksi kartel ini mem­buat dirinya pesimis target swa­sem­bada pangan 2014 akan ter­capai.  “Prak­­tik kartel  menunjuk­kan ke­tahanan pangan kita rapuh.  Saya rasa sulit 2014 swasembada pangan,” imbuh­nya.

Anggota Lembaga Pengka­jian, Penelitian, dan Pengemba­ngan Eko­nomi (LP3E) Kadin,  Ina Pri­miana menyebutkan indikasi  adanya praktik kartel terlihat dari gejolak harga yang tidak  normal. Se­bagian be­sar produk pangan se­­perti kedelai, beras, gula, ja­gung dan daging mengalami tren pe­ningkatan harga hingga 100 per­sen sejak tiga tahun terakhir. [Harian Rakyat Merdeka]


Jadikan RMOL.ID sumber pilihan pencarian Google

FOLLOW US

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari RMOL.ID di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

ARTIKEL LAINNYA