“Kalau ada kartel kita sikat raÂmai-ramai karena praktik itu meÂnyengsarakan rakyat. Jangan samÂpai ada kartel di negeri ini, apalagi memainkan harga,†kata Hatta di Istana Presiden, Jakarta, kemarin.
Namun demikian, Ketua Umum DPP Partai Amanat NaÂsional (PAN) ini mengisratkan tiÂdak mau gegabah. Dia ingin mengeÂcek dulu pola pasokan dan perdagangan pangan. Misalnya soal daging. Badan Pusat Statistik (BPS) pernah melaporkan jumlah konsumsi daging masyarakat IndoÂnesia naik dari 1,9 kilogram per kapita per tahun menjadi 2,2 kilogram per kapita per tahun.
SeÂmenÂtara jumlah impor daÂging berÂkurang. Menurutnya, seÂbaikÂnya dibalik kenaikan harga perlu dipastikan dulu penyeÂbabnya.
Dia menuturkan, kewenangan penentuan kuota impor pangan berada di Kementerian Pertanian. Pihaknya hanya sebatas melakuÂkan koordinasi. Tapi, Hatta janji akan mengkaji ulang data impor. “Kita akan lihat apakah data yang ada akurat,†katanya.
Soal pertemuan dengan PresiÂden, Hatta menerangkan, dia meÂlaporkan kondisi harga pangan. Salah satunya, masalah tren harga daging yang terus naik. MenurutÂnya, Presiden SBY memerintahÂkan dirinya agar melakukan peÂngenÂdalian. Untuk mengatasi maÂsalah itu, SBY akan memanggil MenÂteri Pertanian Suswono guna meminta penjelasan.
Dugaan terjadi praktik kartel pangan dua hari lalu disampaikan Komisi Pengawasan dan PerÂsaiÂngan Usaha (KPPU) dan Kamar Dagang dan Industri (Kadin).
Ketua Kadin Bidang PemÂberÂdayaan Daerah dan Bulog, Natsir Mansur mensinyalir ada enam komoditas dikuasai kartel dengan nilai Rp 11,3 triliun.
Keenam komoditas itu yakni, daging sapi, daging ayam, gula, keÂdelai, jagung dan beras. MeÂnuÂrutnya, praktik tersebut terjadi karena pemerintah tidak melaÂkukan pembenahan.
Adanya aksi kartel ini memÂbuat dirinya pesimis target swaÂsemÂbada pangan 2014 akan terÂcapai. “PrakÂÂtik kartel menunjukÂkan keÂtahanan pangan kita rapuh. Saya rasa sulit 2014 swasembada pangan,†imbuhÂnya.
Anggota Lembaga PengkaÂjian, Penelitian, dan PengembaÂngan EkoÂnomi (LP3E) Kadin, Ina PriÂmiana menyebutkan indikasi adanya praktik kartel terlihat dari gejolak harga yang tidak normal. SeÂbagian beÂsar produk pangan seÂÂperti kedelai, beras, gula, jaÂgung dan daging mengalami tren peÂningkatan harga hingga 100 perÂsen sejak tiga tahun terakhir. [Harian Rakyat Merdeka]
Jadikan RMOL.ID sumber pilihan pencarian Google
BERITA TERKAIT: