Ngeri, Importir Kuasai Penjualan Daging Sapi

Kebijakan Kementan Perlu Direvisi & Diawasi

Jumat, 08 Februari 2013, 08:37 WIB
Ngeri, Importir Kuasai Penjualan Daging Sapi
ilustrasi, Daging Sapi
Kecil Besar
rmol news logo .Asosiasi Pedagang Daging Sapi Indonesia mensinyalir daging sapi langka dan mahal karena importir melakukan praktik monopoli. Mereka memborong produksi lokal.

Ketua Umum Asosiasi Peda­gang Daging Sapi Indonesia, Da­dang Iskandar menegaskan, se­­suai kebijakan Dirjen Peter­nakan Kementerian Pertanian, importir  hanya dibolehkan me­nyerap 10 persen produksi lokal. Tapi di la­pangan aturan tersebut tidak jalan.

“Di lapangan mereka banyak menyerap. Mereka yang mengua­sai sapi impor dan sapi lokal,” ung­kap Dadang saat audiensi dengan Komisi IV DPR di Ge­dung DPR Senayan Jakarta, kemarin.

Untuk itu, dia minta, DPR men­cabut re­­gulasi tersebut. Jika tidak, ge­jo­lak harga daging tidak akan bisa di­kendalikan. Dia ingin importir dibatasi menangani da­ging impor saja. Sementara, pe­dagang meng­u­rusi perdaga­ngan produksi lokal.

Selain itu, usulannya tersebut perlu diberlakukan guna men­jaga keseimbangan antara peda­gang lokal dan importir. Me­nu­rut­nya, saat ini, pedagang lokal tak mam­pu bersaing dengan im­portir yang notabene pengusaha besar. Ka­rena pedagang kecil tidak sang­gup melawan  para importir yang banyak uang dan infra­struktur yang lengkap.

Dadang mengungkapkan, ge­jolak harga daging sapi belaka­ngan ini telah membuat 40 per­sen pedagang di Jawa Barat gulung tikar.

Selain pembenahan kebijakan, Dadang usul pemerintah impor sapi trading siap potong untuk me­nurunkan harga. Karena sapi je­nis itu lebih murah dari daging beku dan bakalan. Mekanisme­nya, pemerintah bisa menyisih­kan 10 persen dari 80 persen jatah kuota impor daging sapi tahun ini.

Sekadar informasi, sapi trading merupakan istilah untuk sapi siap potong. Sedangkan sapi bakalan itu sapi dapat di­potong, namun perlu pro­ses pengemukan selama tiga bulan.  “Sapi trading harga­nya lebih murah, rasa dan kualitas sama,” imbuhnya.

Anggota Komisi VI DPR Ferarri Romawi menuturkan, du­gaan importir borong produksi da­ging lokal mengindikasikan pengawasan dilakukan pemerin­tah lemah. Dia menilai, aturan ter­­sebut sebenarnya sudah bagus namun penerapannya kurang pas.

Namun demikian, untuk men­ciptakan sistem yang lebih baik menurutnya tidak ada salahnya aturan yang ada dikaji ulang dan diperkuat. “Kebijakan daging perlu ditata ulang untuk menga­tasi masalah daging saat ini. masa kondisi sekarang mau didiamkan saja,” kata politisi Demokrat ini.

Ferrari ingin aturan baru meng­a­tur secara komperhensif ke­bi­jakan penjualan daging. Mu­lai dari  kuota impor sampai  peng­endalian harga.

Saat ingin dikonfirmasi masa­lah ini, Dirjen Peternakan Ke­men­tan Syukur Iwantoro tidak bisa dihubungi. Telepon selular­nya tidak aktif.

Sementara, pasokan daging di pasar sampai kemarin masih mi­nim. Hal tersebut diungkapkan Sulastri, pedagang daging di pa­sar Jati Rawasari, Cempaka Pu­tih, Jakarta Barat.

“Dulu sih bisa jual 25-30 kilo sehari, sekarang cuma 10 kilo. Lagi kacau sekarang, alasannya sapi kosong, permainan orang atas ini,” kata Sulastri seperti di­kutip mediaonline, kemarin.

Sulastri mengatakan, harga da­ging saat ini Rp 90 ribu per kilo­gram. Harga ini masih jauh lebih rendah dari harga sebelumnya yang sempat menyentuh angka Rp 110 ribu per kilogram. [Harian Rakyat Merdeka]


Jadikan RMOL.ID sumber pilihan pencarian Google

FOLLOW US

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari RMOL.ID di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

ARTIKEL LAINNYA