IHSG Naik, Pemerintah Nggak Boleh Terlena Penilaian Asing

Fitch Ratings Ponten Positif Iklim Investasi Indonesia

Kamis, 07 Februari 2013, 08:27 WIB
IHSG Naik, Pemerintah Nggak Boleh Terlena Penilaian Asing
ilustrasi/ist
Kecil Besar
rmol news logo .Fitch Ratings mengapresiasi stabilitas iklim investasi Indonesia. Namun, Pemerintah diingatkan tidak terlena karena peringkat tersebut disinyalir justru bisa berdampak negatif terhadap perekonomian.

Lembaga pemeringkat kredit, internasional Fitch Rating, me­ne­­tapkan peringkat utang Indo­nesia berada di posisi BBB mi­nus. Arti­nya,  Indonesia masih di­pandang negara layak investasi.

Deputy Commisioners of Ca­pi­­tal Market Supervisory Agen­cy II Noor Rachman me­ngata­kan, penilaian itu sangat positif  ka­rena semua masih ber­jalan se­suai ren­cana. Mulai dari per­tum­bu­han ekonomi, kebija­kan fiskal dan kondisi ma­kro eko­nomi.

“Kredit rating Indonesia ma­sih ba­gus dan diharapkan akan lebih ba­gus lagi pada akhir 2013. Hara­pan­­nya kan kalau bisa lebih, dan tentu­nya kor­po­­rat­nya bisa mengi­kuti,” jelas Noor di Ja­karta, ke­marin.

Namun diakui, masih ba­nyak ke­mudahan usaha yang harus di­benahi oleh pemerintah Indo­ne­sia. Antara lain, pering­kat utang di pasar saham dan obli­gasi.

Dia optimistis, peringkat utang akan membaik karena pe­­­­nilaian terhadap iklim inves­tasi juga po­sitif. Dengan pe­ring­kat ter­sebut, investor makin ya­kin mena­nam­kan modal­nya di Indo­nesia.

Wakil Menteri Keuangan Ma­hendra Siregar menilai, peringkat utang diberikan Fitch Rating ke­pada Indonesia bisa lebih baik bila pemerintah mampu meng­ha­dapi tantangan dalam menjaga pertumbuhan ekonomi tahun ini.

Tantangan itu disebutkan Ma­hendra ada tiga. Yaitu, perbaikan infrastruktur, mengha­pus subsidi bahan bakar minyak (BBM) dan memperbaiki tata kelola birok­rasi (good governance).

“Dari ketiga faktor itu, poin yang terakhir (good governance-red) paling penting. Kalau itu bisa, rating-nya bisa  AAA,” kata Ma­­hen­dra di Jakarta, kemarin.

Pengamat pasar modal Yanuar Rizky mengingatkan, pemerintah jangan terlalu terlena dengan pe­ringkat diberi­kan Fitch Rating. Sebab, patut dicurgai di baliknya ada permai­nan yang sedang di­jalankan pem­beri rating.

Menurut Yanuar, pemerintah harus mengkajinya lebih jauh bila ingin jadikan penilaian rating se­bagai rujukan investasi.

“Apakah pasar modal bergerak karena lembaga rating? Atau se­baliknya, rating yang mengge­rakkan pasar modal? Apakah pe­nilaian itu memberikan dampak po­sitif? Ini semua masih rancu dan belum jelas ukuran dan bukti­nya,” urai Yanuar kepada Rakyat Merdeka, kemarin.

Kemarin, perdagangan saham mencatat rekor tertinggi lagi. Me­nutup perdagangan, In­deks Harga Saham Ga­bungan (IHSG) melaju 19,535 poin (0,44 persen) ke level 4.498,976. Se­­men­tara Indeks LQ45 menan­jak 3,000 poin (0,39 persen) ke level 769,849.

Posisi indeks tersebut meru­pa­kan rekor tertinggi setelah baru saja Senin ke­marin men­ce­tak rekor di level 4.490,565 sete­lah naik 8,931 poin (0,20 per­sen). Investor asing lagi-lagi ber­peran banyak dalam penceta­kan rekor ini. Investor asing ter­catat mela­kukan pem­belian ber­sih (foreign net buy) senilai Rp 462,89 miliar di se­luruh pasar. [Harian Rakyat Merdeka]


Jadikan RMOL.ID sumber pilihan pencarian Google

FOLLOW US

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari RMOL.ID di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

ARTIKEL LAINNYA