Direktur Energy Watch MaÂmit Setiawan mengaku biÂngung dengan klaim industri dan pemerintah soal pasokan gas. Di satu sisi, bilang pasokÂan gas dalam negeri sudah beÂsar. Tapi di sisi lain, mengaku masih minim.
“Jangan sampai ada kalangan industri dan PGN (Perusahaan Gas Negara) yang bermain deÂngan paÂsokan gas. Kita harus hati-hati deÂngan kemungkinan munculnya mafia di sektor ini,†kata Mamit di Jakarta, kemarin.
Menteri Energi Sumber Daya Mineral (SDM) Jero Wacik meÂngaku alokasi gas bagi domesÂtik masih minim. SeÂmenÂtara keÂbutuhan akan energi itu terus meningkat sampai saat ini.
“Kebutuhan gas domestik kita semakin meningkat, sementara alokasi gas cukup minim. Hal itu disebabkan kemajuan ekonomi. Pertumbuhan ekonomi 6,5 persen memÂbuat konsumsi energi semaÂkin meÂningkat,†kata Wacik.
Kepala Satuan Kerja Khusus PeÂlaksana Kegiatan Usaha MiÂnyak dan Gas Bumi (SKK Migas) Rudi Rubiandini membantah peÂmerintah menganaktirikan inÂdustri dalam memperoleh paÂsokan gas.
Menurut Rudi, saat ini peÂmeÂrintah mengalokasikan pasoÂkan gas untuk domestik 40 perÂsen. MenuÂrut Peraturan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Nomor 3 Tahun 2010 tentang Alokasi dan PeÂmanfaatan Gas Bumi untuk PeÂmenuhan KebutuhÂan Dalam NeÂgeri, industri berada di urutan nomor emÂpat daÂlam memperoleh pasokan gas.
Bekas Wakil Menteri ESDM itu mengatakan, pasokan gas daÂlam negeri akan diprioritaskan unÂtuk peningkatan produksi (
lifting) migas, industri pupuk dan Perusahaan listrik Negara (PLN). Namun, saat dialokasiÂkan ternyata gas untuk industri menÂjadi terbesar.
Kendati begitu, dia meminta kaÂlangan industri bersabar dalam memperoleh pasokan gas. Dia juga mengakui, sepanjang 2003-2009 ekspor gas mengalami peÂnurunan karena banyaknya konÂtrak yang habis. Ekspor kembali melonjak pada 2010.
Rudi menambahkan, dalam satu dekade seluruh alokasi gas mencapai 250 persen untuk doÂmestik. Pada tahun ini diperÂkiÂrakan akan mencapai di atas 50 persen sehingga ekspor hanya di bawah 50 persen.
“Sampai saat ini akan menÂcaÂpai di atas 50 persen, tentu lebih besar dari ekspor yang di bawah 50 persen,†tegas Rudi.
Ia mengakui, kebutuhan gas ke depannya akan semakin meningÂkat dengan pertumbuhan ekoÂnoÂmi yang semakin tinggi. KaÂrena itu, pihaknya akan meningkatkan produksi.
Wakil Sekjen Asosiasi PenguÂsaha Indonesia (Apindo) Franky Sibarani mengatakan, wajar jika aloÂkasi gas untuk industri lebih dibandingkan untuk
lifting, puÂpuk dan PLN. Alasannya, karena jumlah industri yang memakai gas sangat banyak.
Menurutnya, saat ini ada 400 industri yang terdaftar dalam Forum Industri yang keterganÂtungan menggunakan gas. NaÂmun, pasokannya terbatas. “PaÂsokan gas selama ini belum bisa dipenuhi,†katanya.
Untuk diketahui, alokasi gas buÂmi (per sektor) pada 2012 menÂcapai 998 miliar kaki kubik deÂngan rincian untuk pupuk sebesar 286 miliar kaki kubik, untuk lisÂtrik 555 kaki kubik dan industri 157 kaki kubik. Jumlah tersebut meningkat dari tahun seÂbelumnya, yaitu 434 kaki kubik dengan rinÂcian untuk pupuk sebesar 247 kaÂki kubik, listrik 73 kaki kubik dan Industri 114 kaki kubik.
Selain itu, akan ada penamÂbahan kontrak gas baru pada 2013 sebesar 677 kaki kubik deÂngan rincian untuk pupuk 36 kaki kubik, listrik 227 kaki kubik dan industri 414 kaki kubik.
Sebelumnya, Seketaris PeruÂsahaan Perusahaan Gas Negara (PGN) Heri Yusup mengatakan, pasokan gas untuk PGN dari hulunya sudah terbatas. Karena itu, dia juga mempertanyakan klaim pemerintah yang menyeÂbutkan pasokan untuk dalam negeri sudah besar.
Gas Tangguh Diekspor Ke KoreaRudi RuÂbiandini mengatakan, pemerinÂtah akan mengekspor gas alam cair Tangguh, Papua Barat yang sebelumnya untuk Sempra, AS ke Korea Gas (Kogas) dengan volume 16 kargo per tahun seÂlaÂma 2013-2016. Menurut dia, piÂhaknya sudah mengeluarkan suÂrat penunjukan kepada BP Berau Ltd untuk menjual LNG Sempra ke Kogas.
Menurut Rudi, harga gas SemÂpra ke Kogas memakai formula 14,35 persen dikalikan patokan harga minyak di Jepang (Japan Crude Cocktail/JCC) ditambah konstanta 0,5 dolar AS per juta British Thermal Unit (MMBTU).
Dengan asumsi harga JCC seÂbesar 100 dolar AS per barel, maÂka harga ekspor LNG Tangguh ke Kogas menjadi sekitar 14,85 doÂlar AS per MMBTU. Menurut Rudi, periode waktu ekspor ke Kogas memang hanya sampai 2016, karena gas selanjutnya akan digunakan memenuhi keÂbutuhan dalam negeri. [Harian Rakyat Merdeka]
BERITA TERKAIT: