.Menteri Keuangan (Menkeu) Agus Martowardojo mengungkapkan adanya sindikat besar yang melakukan penyelundupan bahan bakar minyak (BBM) subsidi ke luar negeri. Alhasil, kuota sering tidak mencukupi alias jebol.
“BBM Spanyol (Separuh NyoÂlong-red) itu sesuatu yang betul-betul menyakitkan karena uang rakyat yang digunakan untuk BBM terÂnyata diselundupkan,†ujar Agus di kantor pusat Ditjen Bea Cukai, kemarin.
Dia menegaskan, penyelunÂduÂpan tersebut merupakan tindakÂan sinÂdikat mafia. Maraknya keÂgiatÂan penyelundupan itu karena adaÂnya keuntungan dari margin harÂga penjualan dan membuat prakÂtik ini terus terjadi. Pekan lalu, Bea Cukai berhasil menceÂgah penyelundupan BBM seÂbanyak 4.000 ton.
Padahal, kata Agus, besarnya angÂgaran negara untuk subsidi teÂrus melonjak. “Kira-kira Rp 300 triÂliun untuk subsidi (2013), yang paling besar untuk BBM dan lisÂtrik. BBM yang sudah raÂtusan triÂliun subÂsidinya ternyata diselunÂdupkan keluar negeri,†cetusnya.
Untuk itu, Agus mengÂharapkan dukungan semua pihak dalam mengÂhindari tindakan peÂnyeÂlunÂdupan tersebut. “Saya sambut baik tindakan Bea Cukai. Hal ini guna menjaga penerimaan dan keuangÂan negara,†tandasnya.
Menteri Energi dan Sumber DaÂya Mineral (ESDM) Jero WaÂcik mengaku BBM subsidi taÂhun ini jebol dan program peÂngendaÂlian BBM bersubsidi tidak berÂhasil sempurna.
Indikatornya, kuota subsidi BBM yang telah ditambah 4 juta kiloliter (KL), hingga secara total menjadi 44,04 juta KL tetap tidak cukup dan kembali jebol. “Masih belum maksimal (pengÂhematÂan),†aku Wacik.
Tapi, Wacik mengklaim beberaÂpa progÂram seperti pembatasan pengÂÂguÂnaan BBM subsidi untuk kenÂdaÂraan pemerintah, BUMN dan BUMD berhasil. MeÂnurut dia, yang belum berjalan semÂpurna peÂngawasannya terjadi pada sektor pertambangan dan perÂkebunan. MaÂsih ada informasi maÂraknya penyelundupan BBM bersubsidi dan dijual ke negara tetangga.
“Itu harus kita tertibkan. PeÂnyeÂÂlundupan ada karena harga BBM kita murah, sementara di neÂgara tetangga mahal. Mereka terÂmotivasi untuk menyelunÂdupÂkan,†jelasnya.
Direktur BBM Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas) Djoko Siswanto meÂÂÂngatakan, mulai 1 Desember 2012 pemerintah akan melarang kapal barang dan kendaraan sekÂtor kehutanan memakai BBM subsidi jenis solar.
Djoko mengatakan, penyalurÂan BBM subsidi saat ini banyak yang tidak tepat sasaran. Untuk itu, peÂmerintah akan mengeluarÂkan PerÂturan Menteri ESDM terÂkait peÂlarangan bagi kapal barang dan kendaraan sektor kehutanan untuk memakai solar subsidi.
Karena itu, pemerintah akan merevisi Permen ESDM Nomor 12 Tahun 2012 tentang PengenÂdaÂlian Penggunaan BBM.
“Pelarangan kapal meÂmakai solar subsidi meÂrupakan kelanÂjutan kebijakan BBM pada seÂjumlah sektor lainnya,†katanya.
Djoko mengataÂkan, gerakan sehari tanpa preÂmium baru akan dimulai tahun deÂpan, yakni setiap hari Minggu. NaÂmun, gerakan ini tidak akan berÂlangsung 24 jam.
“Tahun deÂpan di hari-hari libur, di hari MingÂgu. Kalau bisa dilaÂkukan setiap hari Minggu kan baÂgus,†ucapnya.
Menurutnya, gerakan itu baÂgusnya dimulai sejak pagi sekitar pukul 8 pagi hingga pukul 6 sore. Namun, itu akan berlaku hanya untuk mobil-mobil pribadi.
“Nanti di jam-jam tertentu saÂja. Angkot tetap ada, ini untuk mobil pribadi. Mulainya tahun depan, sosialisasi dulu,†ujarnya.
Untuk diketahui, hasil rapat koÂordinasi tingkat menteri di kantor Menko Perekonomian Hatta RaÂjaÂsa, Rabu (28/11) memuÂtusÂkan, peÂmerintah akan menamÂbah kuota BBM subsidi tahun ini sebesar 1,2 juta KL. Anggaran yang harus digelonÂtorkan pemeÂrintah sebesar Rp 6 triliun.
Wakil Menteri ESDM Rudi Rubiandi mengatakan, dana Rp 6 triliun itu untuk menambah kuota BBM berasal dari APBN. Dana ini berasal dari sisa angÂgaran yang tidak terserap.
“Kemenkeu di dalam posturÂnya selalu pada akhir tahun mengÂÂÂÂgeÂser, ada (anggaran) yang tidak haÂbis. Itu ditarik kemari (kuota BBM),†katanya. [Harian Rakyat Merdeka]
BERITA TERKAIT: