.Akibat salah kalkulasi perhiÂtungan kurs, laba bersih PLN semÂpat anjlok signifikan sekitar 90,84 persen menjadi Rp 865Â,Â092 miliar dalam sembilan bulan perÂtama 2012, dibandingÂkan peÂriÂode yang sama tahun lalu Rp 9,452 triÂliun.
Berdasarkan publikasi perÂseÂroan, tertekannya laÂba disebabÂkan oleh kerugian kurs yang diÂdeÂrita perusahaan seÂbesar Rp 9,164 triÂliun per 30 SepÂtember 2012. PaÂdaÂhal, periode yang saÂma 2011 PLN masih menÂcatat keunÂtuÂngan kurs sekitar Rp 2,154 triliun.
Anggota Komisi VII DPR Dewi Aryani menilai, penurunan laba bersih akibat kerugian kurs menunjukkan kesalahan dalam peÂrencanaan bisnis (business plan) perusahaan. Bila perusahaÂan mempunyai peÂrencanaan bisÂnis yang baik, seÂharusnya mamÂpu memprediksi peÂrubahan kurs vaÂluta asing.
“Dalam korporasi selalu ada yang namanya business plan. TenÂtuÂnya harus mematok juga nilai kurs yang dipakai sebagai acuan laba atau rugi dalam fiÂnanÂcial stateÂment perusahaan,†ujar Dewi keÂpada Rakyat Merdeka di JaÂkarta, kemarin.
Politisi PDIP ini mengatakan, pada dasarnya rugi lama perusaÂhaan selalu diperÂkirakan dalam rencana pesimis maupun optimis pengelolaan peÂruÂsahaan. Karena itu, PLN harus serius dalam memÂÂbuat perencaÂnaan serta benar-benar memperÂhatikan berÂbagai aspek, sehingga berbagai keÂmungÂkinan bisa diatasi secara dini.
Menurut Dewi, kualitas pelaÂyaÂnan PLN kepada pelanggan saat ini sudah cukup baik, namun masih perlu ditingkatkan, teruÂtama capaian elektrifikasi pada daerah-daerah tertentu.
“Pengelolaan perusahaan lisÂtrik negara harus benar karena masyarakat butuh listrik untuk meÂningkatkan kualiÂtas hidup. PLN sebagai perusaÂhaan listrik satu-satunya harus menjalankan tugas secara opÂtimal,†tandasnya.
Selain mengalami rugi kurs, beban keuangan PLN kian memÂbengkak, yakni 38 persen dari Rp 12,613 triliun per 30 September 2011 menjadi Rp 17,413 triliun dalam sembilan bulan pertama tahun ini. Penghasilan bunga BUMN kelistrikan tersebut juga tergerus 33,72 persen menjadi Rp 302,279 miliar.
Ketika dikonfirmasi, Direktur Utama PLN Nur Pamudji menyaÂtakan, kerugian kurs akan diÂantisiÂpasi lewat hedging (lindung nilai). SaÂyangnya, hingga kini, BUMN terÂmasuk PLN belum diberi keÂweÂnangan untuk melaÂkuÂkan hedging kaÂrena terlalu berisiko. [Harian Rakyat Merdeka]
BERITA TERKAIT: