.Kelangkaan pasokan daging sapi yang terjadi di Jakarta dan beberapa daerah dalam beberapa hari terakhir ini membuat industri kecil dan menengah (IKM) menjerit karena kesulitan bahan baku.
menurut Dirjen IKM KeÂmenterian Perindustrian (KemenÂÂperin) Euis Saedah, yang terkena dampak seretnya pasokan daging sapi adalah IKM yang bergerak di sektor pengolahan daging.
Kelangkaan bahan baku daging ini menjadi pertanyaan Euis. SeÂbab, Wakil Menteri PerÂdaÂgaÂngan BaÂyu Krisnamurthi saat jelang LeÂbaran kemarin meÂnyebutkan, paÂsokan daging dalam negeri aman dan cukup hingga akhir tahun.
“Jadi sebenarnya stok kita cuÂkup sesuai pernyataan KemenÂdag. Cuma ada di mana itu si daÂging. Apakah daging itu sudah diolah menjadi produk olahan atau ini hiÂlang gara-gara menjeÂlang Natal,†tanya Euis usai memÂbuka pamerÂan produk IKM JaÂwa Timur di kantornya, kemarin.
Menurut dia, saat ini jumlah IKM di Indonesia yang terdaftar mencapai 3,9 juta dan 25 perÂsenÂnya bergerak di sektor pangan atau sekitar 1 jutaan. Sedangkan jumlah IKM yang bergerak di inÂdustri pengolahan mencapi 10 persen dari jumlah IKM pangan.
Selain itu, bahan baku yang diÂÂgunakan IKM banyak mengÂguÂnakan daging produk dalam neÂgeri. Jadi kelangkaan bahan baku daging di pasaran tentu akan berÂdampak langsung pada proÂduksi dan penjualan.
Direktur Eksekutif National Meat Processors Association InÂdonesia (Nampa) Haniwar Syarif mengatakan, kelangkaan dan maÂhalnya harga bahan baku daging dalam negeri membeÂrikan damÂpak pada produksi industrinya.
â€Saat ini kami mengÂgunakan baÂhan baku daging lokal 10 perÂsen, sisanya dipenuhi dari impor,†katanya kepada Rakyat Merdeka.
Untuk pasokan daging impor, menurut Haniwar, saat ini tidak masalah karena pemerintah suÂdah mengeluarkan kebijakan tamÂbahÂan impor 7.000 ton, artiÂnya pasoÂkÂan ini aman hingga awal tahun. Tapi pasokan daging dari dalam negeri tidak aman.
“Saat ini harga daging bisa menÂcapai 100 ribu per kilogram dan langka di lapangan. Alhasil, kaÂmi harus menghentikan dan meÂÂnguÂrangi produksi bakso yang mengÂgunakan daging loÂkal,†curhat Haniwar.
Akibat kelangkaan itu, proÂdukÂsi berkurang 10-15 persen. PadaÂhal, pasokan daging lokal saÂngat dibutuhkan untuk memÂbuat bakÂso super. Dia mengÂaku keÂlangÂkaÂan daging saat ini terbilang parah dan baru pertama kali terjadi.
“Meskipun kita sudah kontrak, tapi nyatanya susah juga mendaÂpat pasokan (daging),†cetusnya.
Ketua Asosiasi Pedagang DaÂging Indonesia Asnawi menilai, pemerintah tidak serius meÂnyeÂlesaikan kelangkaan daging di JaÂbodetabek. Apalagi alasan keÂlangkaan daging yang terjadi diÂsebabkan masalah distribusi.
“Jika pemerintah serius, maÂsaÂlah itu bisa diselesaikan melaÂlui kerja sama dengan KemenÂteÂrian Perhubungan untuk memÂperÂmuÂdah pengiriman dari daerah,†kata Asnawi.
Menurut Asnawi, kelangkaan ini kemungkinan akan berlangÂsung lama. Apalagi stok sapi di Jakarta ada 130 ribu ekor dan tamÂbahannya akan dikirim 5.000 ribu ekor untuk pemenuhan JaÂbodetabek.
“Jakarta saja setiap hari memÂbutuhkan 900-1.000 ekor. SeÂdangÂkan Jabodetabek per hari 2.500 ekor. Tentu pasokan itu hanya cukup untuk 50 hari, tidak akan membantu lama,†jelasnya.
Anggota Komisi IV DPR Ma’Âmur Hasanuddin berpendapat, pemerintah perlu menertibkan dan menindak tegas distributor yang melakukan spekulasi dan mempermainkan harga daging sapi di pasaran, jika perlu menÂcabut izinnya.
Apalagi, keÂlangÂkaan ini cukup mengherankan karena tidak ada momentum atau event hari besar yang menyebabkan konsumsi daÂging sapi meningkat.
“Sangat dimungkinkan kelangÂkaan terjadi akibat aksi meÂnyimÂpan stok dari sebagian pihak unÂtuk mempengaruhi harga pasar dan menciptakan iklim yang tidak kondusif dalam usaha penekanan angka importasi,†ujar Ma’mur.
Dia tidak sependapat jika diseÂbutkan kelangkaan ini karena peÂmangkasan kuota daging sapi imÂpor secara radikal, yakni dari kuota 100.000 ton pada 2011 haÂnya menjadi 34.000 ton pada 2012. Menurutnya, kelangkaan daging sapi saat ini terjadi kaÂrena spekulasi yang dilakukan seÂbaÂgian distributor.
Dia juga mengatakan, sektor retail usaha sapi potong meruÂpaÂkan sektor yang mata rantainya saÂngat panjang. Apalagi peterÂnak (sektor hulu) hanya menikÂmati 40 persen dari harga pasar konÂsuÂmen. [Harian Rakyat Merdeka]
BERITA TERKAIT: