Harga Daging Sapi Tembus Rp 100.000, IKM Menjerit

Pemerintah Diminta Cabut Izin Distributor Yang Mainkan Harga Di Pasaran

Rabu, 21 November 2012, 08:01 WIB
Harga Daging Sapi Tembus Rp 100.000, IKM Menjerit
ilustrasi, daging sapi
Kecil Besar
rmol news logo .Kelangkaan pasokan daging sapi yang terjadi di Jakarta dan beberapa daerah dalam beberapa hari terakhir ini membuat industri kecil dan menengah (IKM) menjerit karena kesulitan bahan baku.

menurut Dirjen IKM Ke­menterian Perindustrian (Kemen­­perin) Euis Saedah, yang terkena dampak seretnya pasokan daging sapi adalah IKM yang bergerak di sektor pengolahan daging.

Kelangkaan bahan baku daging ini menjadi pertanyaan Euis. Se­bab, Wakil Menteri Per­da­ga­ngan Ba­yu Krisnamurthi saat jelang Le­baran kemarin me­nyebutkan, pa­sokan daging dalam negeri aman dan cukup hingga akhir tahun.

“Jadi sebenarnya stok kita cu­kup sesuai pernyataan Kemen­dag. Cuma ada di mana itu si da­ging. Apakah daging itu sudah diolah menjadi produk olahan atau ini hi­lang gara-gara menje­lang Natal,” tanya Euis usai mem­buka pamer­an produk IKM Ja­wa Timur di kantornya, kemarin.

Menurut dia, saat ini jumlah IKM di Indonesia yang terdaftar mencapai 3,9 juta dan 25 per­sen­nya bergerak di sektor pangan atau sekitar 1 jutaan. Sedangkan jumlah IKM yang bergerak di in­dustri pengolahan mencapi 10 persen dari jumlah IKM pangan.

Selain itu, bahan baku yang di­­gunakan IKM banyak meng­gu­nakan daging produk dalam ne­geri. Jadi kelangkaan bahan baku daging di pasaran tentu akan ber­dampak langsung pada pro­duksi dan penjualan.

Direktur Eksekutif National Meat Processors Association In­donesia (Nampa) Haniwar Syarif mengatakan, kelangkaan dan ma­halnya harga bahan baku daging dalam negeri membe­rikan dam­pak pada produksi industrinya.

”Saat ini kami meng­gunakan ba­han baku daging lokal 10 per­sen, sisanya dipenuhi dari impor,” katanya kepada Rakyat Merdeka.

Untuk pasokan daging impor, menurut Haniwar, saat ini tidak masalah karena pemerintah su­dah mengeluarkan kebijakan tam­bah­an impor 7.000 ton, arti­nya paso­k­an ini aman hingga awal tahun. Tapi pasokan daging dari dalam negeri tidak aman.

“Saat ini harga daging bisa men­capai 100 ribu per kilogram dan langka di lapangan. Alhasil, ka­mi harus menghentikan dan me­­ngu­rangi produksi bakso yang meng­gunakan daging lo­kal,” curhat Haniwar.

Akibat kelangkaan itu, pro­duk­si berkurang 10-15 persen. Pada­hal, pasokan daging lokal sa­ngat dibutuhkan untuk mem­buat bak­so super. Dia meng­aku ke­lang­ka­an daging saat ini terbilang parah dan baru pertama kali terjadi.

“Meskipun kita sudah kontrak, tapi nyatanya susah juga menda­pat pasokan (daging),” cetusnya.

Ketua Asosiasi Pedagang Da­ging Indonesia Asnawi menilai, pemerintah tidak serius me­nye­lesaikan kelangkaan daging di Ja­bodetabek. Apalagi alasan ke­langkaan daging yang terjadi di­sebabkan masalah distribusi.

“Jika pemerintah serius, ma­sa­lah itu bisa diselesaikan mela­lui kerja sama dengan Kemen­te­rian Perhubungan untuk mem­per­mu­dah pengiriman dari daerah,” kata Asnawi.

Menurut Asnawi, kelangkaan ini kemungkinan akan berlang­sung lama. Apalagi stok sapi di Jakarta ada 130 ribu ekor dan tam­bahannya akan dikirim 5.000 ribu ekor untuk pemenuhan Ja­bodetabek.

“Jakarta saja setiap hari mem­butuhkan 900-1.000 ekor. Se­dang­kan Jabodetabek per hari­ 2.500 ekor. Tentu pasokan itu hanya cukup untuk 50 hari, tidak akan membantu lama,” jelasnya.

Anggota Komisi IV DPR Ma’­mur Hasanuddin berpendapat, pemerintah perlu menertibkan dan menindak tegas distributor yang melakukan spekulasi dan mempermainkan harga daging sapi di pasaran, jika perlu men­cabut izinnya.

Apalagi, ke­lang­kaan ini cukup mengherankan karena tidak ada momentum atau event hari besar yang menyebabkan konsumsi da­ging sapi meningkat.

“Sangat dimungkinkan kelang­kaan terjadi akibat aksi me­nyim­pan stok dari sebagian pihak un­tuk mempengaruhi harga pasar dan menciptakan iklim yang tidak kondusif dalam usaha penekanan angka importasi,” ujar Ma’mur.

Dia tidak sependapat jika dise­butkan kelangkaan ini karena pe­mangkasan kuota daging sapi im­por secara radikal, yakni dari kuota 100.000 ton pada 2011 ha­nya menjadi 34.000 ton pada 2012. Menurutnya, kelangkaan daging sapi saat ini terjadi ka­rena spekulasi yang dilakukan se­ba­gian distributor.

Dia juga mengatakan, sektor retail usaha sapi potong meru­pa­kan sektor yang mata rantainya sa­ngat panjang. Apalagi peter­nak (sektor hulu) hanya menik­mati 40 persen dari harga pasar kon­su­men. [Harian Rakyat Merdeka]

Jadikan RMOL.ID sumber pilihan pencarian Google

FOLLOW US

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari RMOL.ID di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

ARTIKEL LAINNYA