DPR tetap menolak Pusat Investasi Pemerintah (PIP) mengambilalih PT Indonesia Asahan Alumunium (Inalum).
Anggota Komisi XI DPR Achsanul Qosasih mengatakan, sebaiknya pengambilalihan InaÂlum dilakukan Badan Usaha MiÂlik Negara (BUMN). Kalau meÂlalui PIP, ditakutkan bakal terjadi polemik seperti Newmont.
“Tapi kami tetap dukung peÂmerintah mengambil Inalum dari Jepang,†katanya kepada Rakyat Merdeka, Kamis (15/11).
Menurut dia, jika pemerintah dalam hal ini Kementerian KeÂuangan (Kemenkeu) tetap mau mengambil Inalum melalui PIP, harus didiskusikan terlebih daÂhuÂlu. Apalagi tujuan PIP untuk pembiayaan pembaÂngunÂan inÂfrastruktur.
“Saat ini PIP terkesan peruÂsaÂhaan yang khusus ngusurin tamÂbang. Kami serahkan tekÂnisnya kepada pemerintah,†cetusnya.
Ditanya apa pemerintah perlu membuat BUMN baru untuk InaÂlum, politisi Partai DeÂmokrat itu berpendapat tidak perlu. AchsaÂnul meÂngaÂtakan, sebaiknya peÂmerintah menggunakan BUMN yang suÂdah ada saat ini.
Dia juga menyatakan, duÂkuÂngan DPR terhadap peÂmeÂrintah dengan disetujuinya anggaran Rp 5 triliun pada APBN 2013 unÂtuk mengambil Inalum.
Dirjen Kerja Sama Industri InÂternasional Kementerian PerÂinÂdustrian (Kemenperin) Agus TjaÂhajana mengatakan, pihaknya siap ambil alih Inalum pada 2013.
“Pemerintah tetap ingin mengÂambil kepemilikan itu dari PeÂmeÂrintah Jepang. Kita tetap ingin Inalum dimiliki Indonesia dan perusahaan tersebut terus berÂkembang,†katanya kepada RakÂyat Merdeka.
Persoalan siapa yang nanti meÂngambilalih, dia menyeÂrahÂkan seÂpenuhnya kepada KemenÂkeu. Menurut Agus, saat ini tugas KeÂmenperin hanya meÂlakukan neÂgoÂsiasi dengan Jepang.
“Apakah itu melalui PIP atau BUMN, kita serahkan kepada pemerintah. Kami hanya ingin Inalum bisa dikelola Indonesia,†ujarnya.
Untuk pengembangan Inalum, pemerintah membutuhkan angÂgaran 1,2-1,4 miliar dolar AS yang akan digunakan untuk meÂningkatkan kapasitas produksi alumunium dari 200.000 ton menjadi 410.000 ton.
Agus menambahkan, produksi Inalum sepenuhnya untuk meÂmenuhi kebutuhan dalam negeri. Seiring bertumbuhnya sektor inÂdustri, Inalum akan memasok bahan baku alumunium bagi paÂsar dalam negeri pasca pengÂamÂbilalihan dari pihak Jepang.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Hatta Rajasa meÂngatakan, tidak penting siapa yang nantinya akan mengelola Inalum. Menurutnya, yang lebih penting adalah pada 2013 InaÂlum sepenuhnya kembali ke stakeÂholder Indonesia.
“Kalau sudah untuk sendiri kita bisa gampang memilihnya bisa Antam, bisa BUMN baru, bisa macam-macam,†kata Hatta.
Dia menambahkan, nantinya yang akan menjalankan Inalum memang harus dari BUMN. SeÂbab, ada kewajiban untuk memÂbayar sisa aset sekitar 500-700 juta dolar AS. “Ini peÂmÂbiÂayaÂannya bisa dari PIP, bisa langsung BUMN. Opsi itu terÂbuka saja,†ucap Hatta.
Untuk diketahui, rapat tim perumus (Timus) draf RUU APBN tahun anggaran 2013 antara Badan Anggaran (BangÂgar) dengan pemerintah tidak menyetujui usulan pemerintah agar pembelian dan pengeÂlolaan aset Inalum dilakukan langsung PIP.
Namun, setelah melalui neÂgosiasi yang alot akhirnya BaÂdan Anggaran (BangÂÂgar) meÂnyeÂtujui pemeÂrinÂtah memÂbeli saham Inalum. Untuk mengÂakuiÂsisi 58,9 perÂsen saham dari Jepang, pemÂeÂrintah telah mengÂÂalokasikan dana Rp 7 triliun.
Dalam kesepakatan dengan DPR, pembelian Inalum tidak akan menggunakan PIP, namun akan langsung melalui pemeÂrintah sendiri.
Saat ini kepemilikan Inalum terbagi antara Pemerintah IndoÂnesia 41,12 persen dengan konÂsorsium swasta-Pemerintah JeÂpang yang tergabung dalam Nippon Asahan Alumunium (NAA) 58,88 persen. [Harian Rakyat Merdeka]