Kepada wartawan Guntur menceritakan jika buku ini pertama kali diterbitkan tahun 1977 ketika rezim Orde Baru sedang berkuasa dan dalam menerbitkannya harus mendapatkan nomor polisi sebagai izin.
Ada 26 kisah dalam buku ini yang mencatat kisah-kisah humanis dari seorang Soekarno. Guntur dengan gaya santai menuliskan betapa sang bapak meski terkenal garang ketika melawan kolonialisme dan imperialisme, tetaplah dia seorang bapak yang berhati lembut dan penyayang pada anak-anaknya.
Tapi kata Guntur, jangan main-main kalau bicara soal penjajahan kepada Bung Karno, karena Bung Karno bisa berubah berapi-api kalau tahu ada negara yang masih tunduk pada penjajahan.
"Bung karno benci Neokolonialisme, fasisme, kapitalisme, didepan para kapitalis dia berkata dengan lantang, ini dadaku mana dadamu,"ujar Guntur dengan lantang menirukan gaya bapak proklamator itu saat launching buku di Gedung Sampoerna Strategic Square, Jakarta, Sabtu (17/11).
Lebih lanjut, Guntur mengatakan bahwa buku ini diharapkan bisa melahirkan pesan yang dapat diambil anak muda. Yang menurut Guntur pesan tersebut adalah anak muda sekarang perlu dididik kembali karakternya, tentang bagaimana memiliki watak kebangsaan dan rasa patriotisme, yang sekarang mulai luntur.
"Harus seperti Bung Karno, apa-apa enggak pernah plintat-plintut, tidak takut, konsekuen, pokoknya terbuka," demikian Guntur.
[ian]