Kerja sama pendirian pabrik pupuk antara PT Pupuk SriÂwidjaja Palembang (Pusri) dengan perusahaan asal YorÂdania, Jordan Phosphate Mine Company (JPMC) terbengkalai lebih dari 2 tahun.
Direktur Utama Pusri MusÂthofa mengatakan, perjanjian yang sudah ditandatangani tahun 2010 ini terkendala kaÂrena masalah ketersediaan lahan untuk pabrik dan infrastruktur pelabuhan.
“Pembangunan pabrik ini sudah harus dimulai, cuma ada kendala lahan. Pihak Yordania tidak ada masalah karena meÂreka ingin memasarkan row material,†ujar Musthofa.
Untuk membangun pabrik pupuk ini, setidaknya diperÂluÂkan lahan 25 hektar dan pelaÂbuhan besar dengan kedalaman minimal 14 meter untuk meÂnamÂpung kapal berbobot 30.000 ton. Musthofa mengatakan, untuk pengembangan pabrik ini, total investasi mencapai 220 juta dolar AS.
“Kita hanya mengembangkan indusri phosphorus, nilai proÂyeknya 220 juta dolar AS di luar tanah. Itu pabriknya saja berÂkapasitas 200 ribu ton per taÂhun,†tambahnya.
Seperti diketahui, kerja sama kedua belah pihak yang berÂlangsung tahun 2010 ini berisi perjanjian untuk pendirian pabÂrik asam sulfat, asam fosfat dan NPK dalam rangka menÂdukung keterÂsediaan pupuk nasional.
JPMC sebagai perusahaan terkemuka di Yordania bergerak dalam bidang usaha produksi dan ekspor batuan fosfat dan mengoperasikan pabrik pupuk berbasis fosfat. JPMC sangat berminat mengembangkan opeÂrasi pabrik bersama dengan Pusri. [Harian Rakyat Merdeka]