Harga Jual Gas Tangguh Eks Sempra Ke PLN Kemahalan

Rabu, 14 November 2012, 08:10 WIB
Harga Jual Gas Tangguh Eks Sempra Ke PLN Kemahalan
ilustrasi, gas Tangguh
Kecil Besar

rmol news logo Pemerintah diminta mere­visi harga jual gas Tangguh eks Sempra untuk PLN yang akan mengacu pada formula ekspor ke Jepang. Sebab, harganya ter­bilang mahal. Hal itu dikata­kan peng­amat energi dari Re­for­Miner Institute Komaidi Noto­negoro.  

Menurut dia, pemerintah ha­rus mem­be­rikan keberpiha­kan kepada ke­pentingan nasio­nal. Kalau harga ekspor gas mema­kai formula 11 persen dari har­ga minyak Indonesia (Indonesia Crude Price/ICP), maka do­mes­­tik mestinya diberi­kan 7-8 persen ICP.

“Selisih 3-4 persen itu seba­gai bentuk keberpihakan pada kepentingan nasional,” kata Komaidi di Jakarta, kemarin.

Untuk diketahui, kesepakatan sementara formula harga gas Tang­guh antara PLN dan BP Berau Ltd, selaku pengelola Tangguh dikaitkan dengan mi­nyak mentah di pasar Jepang (Japan Crude Cocktail/JCC).

Harga gas Tangguh ke PLN itu memakai formula 11 persen dikalikan JCC dan ditambah konstanta satu dolar AS per Million Metric British Thermal Units (MMBTU) pada 2013. Se­lanjutnya, harga gas akan me­nga­lami eskalasi antara 12-14,5 persen JCC secara ber­tahap mulai tahun 2014 hingga 2032.

Sementara rencana ekspor gas Tangguh ke pembeli Jepang yakni Kyushu Electric dan Tepco akan mulai berjalan 2013-2015 dan Kansai Electric 2013-2035 dengan memakai formula 14,25 persen JCC.

Bagi pemerintah, kata Ko­mai­di, harga gas Sempra ke PLN yang mahal tentunya akan menambah subsidi, meski di si­si lain harga gas yang tinggi ju­ga meningkatkan penerimaan negara. Sementara bagi PLN dan industri, harga gas yang murah akan lebih baik.

Kepala Divisi BBM dan Gas PLN Suryadi Mardjoeki me­nga­­takan, pihaknya berharap harga gas Sempra yang rendah sehingga tidak menambah sub­sidi. “Tapi kami menunggu ke­putusan pemerintah soal harga gas ini,” katanya.

Anggota Komisi VII DPR Bobby Rizaldi juga memprotes harga gas Tangguh eks Sempra yang dijual ke PLN setara eks­por ke pembeli Jepang.

“Gas Tangguh eks Sempra dikembangkan dengan harga hanya tiga dolar AS per MMBTU saja dan itu pun sudah balik modal. Kalau dijual se­harga ekspor ke Jepang, ini ben­tuk penzaliman,” kritiknya.

Menurut Bobby, pemerintah harus mengatur agar harga gas Tangguh eks Sempra ke dome­stik itu tidak dengan pendekat­an ekspor. “Jangan seharga ekspor ke Jepang yang saat ini termahal di dunia,” cetusnya.

Dia mengimbau PLN jangan hanya diam dengan harga gas yang mahal. PLN mesti aktif  meminta harga yang ren­dah.

Sebelumnya, Deputi Ope­rasi BP Migas Gde Pra­dnyana me­ngatakan, pihaknya berke­pen­­tingan agar harga jual gas ting­gi, karena akan mening­kat­kan pe­nerimaan negara. Meski ting­gi, harga gas Sem­pra masih le­bih murah diban­ding BBM.   [Harian Rakyat Merdeka]

Jadikan RMOL.ID sumber pilihan pencarian Google

FOLLOW US

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari RMOL.ID di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

ARTIKEL LAINNYA