Hingga akhir tahun kinerja ekspor industri alas kaki nasioÂnal diperkirakan hanya mencaÂpai 3,5 miliar dolar AS akibat krisis gloÂbal serta aksi sweeping oleh seÂrikat kerja (SP).
“Tahun lalu kinerja ekspor alas kaki dari Indonesia hanya 3,3 miÂliar dolar AS dan hingga akhir tahun ini nilai ekspornya sekitar 3,5 miliar dolar AS. Peningkatan nilai ekspor yang hanya sedikit itu karena menurunnya perminÂtaan di pasar Amerika Serikat (AS) dan Eropa,†kata Sekjen Asosiasi Persepatuan Indonesia (Apresindo) Binsar Marpaung.
Selain menurunnya permintaan alas kaki di pasar internasional, menurut Binsar, aksi sweeping yang dilakukan buruh juga menghenÂtikan proses produksi.
Menurut Binsar, hampir 1 buÂlan pabrik sepatu di kawasan industri tidak bisa melakukan produksi karena aksi tersebut yang menunÂtut penghapusan sisÂtem outsourÂcing. Ini membuat daya saing inÂdustri alas kaki nasional semakin terpuruk.
“Untuk 2013, pelaku usaha peÂsiÂmis kinerja ekspor alas kaki nasional bisa meningkat. Sebab, industri alas kaki nasional diÂhamÂÂbat dengan berbagai masaÂlah,†ujar Binsar.
Direktur Industri Tekstil dan Aneka Kementerian PerindusÂtrian (Kemenperin) Ramon BaÂngun mengatakan, industri kulit mengalami kesulitan bahan baku akibat kebijakan karantina oleh pemerintah.
Menurut Ramon, saat ini baÂhan baÂku industri kulit 60 perÂsennya disumbang oleh impor dan sisaÂnya dari dalam negeri. Kulit imÂpor itu berasal dari AmeÂrika dan Australia. “HargaÂnya mahal. Alhasil harga jual proÂdukÂnya ikut mahal,†jelasnya.
Padahal, menurut Ramon, maÂsih ada sumber-sumber bahan baku kulit lainnya selain dari negara tersebut, yaitu Timur Tengah. Namun, pasokan kulit dari Timur Tengah terkendala kebijakan karantina.
“Sekarang bahan bakunya diÂkenakan kebijakan karantina. Kalau kulit mentah tidak apa-apa, tapi ini yang diimpor kulit yang sudah diproses dan jadi bahan baku,†katanya.
Lebih aneh lagi, justru produk jadi dari luar malah dipermudah masuknya yang justru mengÂgangÂgu industri kulit dalam neÂgeri. Ramon juga menyaÂyangÂkan bahan kulit berkualitas dalam negeri banyak diekspor karena industrinya belum mamÂpu meÂngolah.
Sebab itu, ekpor industri kulit mengalami penurunan hingga 12 persen akibat krisis global. UnÂtuk mendongkrak daya saing, pihakÂnya terus mendorong peÂningÂkatan desain industri kulit dan alas kaki tersebut. [Harian Rakyat Merdeka]