.Indonesia dinilai sudah menjadi konsumen utama beras dunia karena gagal meningkatkan produksi dan diversifikasi pangan. Kalau begini terus, Tanah Air terancam mengalami krisis pangan pada 2025.
Direktur Utama Perum BuÂlog Sutarto Alimoeso mengataÂkan, kendati produksi padi tahun ini diprediksi naik 4,87 persen, tetapi pihaknya tidak dapat menjamin tahun ini nggak mengimpor beras.
“Kalau persoalan impor beras ini kan terkait dengan permintaan pemerintah agar stok beras Bulog akhir tahun ini minimal 2 juta ton. Ini juga untuk berjaga-jaga jaÂngan sampai ada gejolak harga beras,†ujarnya, kemarin.
Menurut dia, pemerintah tidak perlu impor jika peningkatan produksi padi dalam 2-3 tahun rata-rata 5 persen.
Wakil Menteri Pertanian (WaÂmentan) Rusman Heryawan meÂngatakan, saat ini Indonesia suÂdah mulai mampu mereaÂlisasiÂkan target surplus beras dalam upaya menjaga ketahanan paÂngan naÂsional. “Sampai akhir Oktober 2012, target surplus beÂras kita suÂdah mencapai angka 4,5 hingga 5 juta ton,†katanya.
Angka tersebut sangat berÂarti dalam mencapai target surplus beÂras 2014 sebesar 10 juta ton. “UnÂtuk mencapai angka itu berat, diperlukan upaya yang sungÂguh-sungguh dari semua pihak, terÂmasuk BUMN yang bergerak di bidang pangan,†tutur Rusman.
Peneliti Lembaga Ilmu PengeÂtahuan (LIPI) Andy Ahmad ZaeÂlany memprediksi, Indonesia paÂda 2025 akan mengalami krisis pangan jika kondisi pertanian pangan masih seperti sekarang.
Saat ini, penduduk Indonesia sebanyak 240 juta jiwa, seÂdangÂkan produksi beras hanya 33-38 juta ton. Dengan demikian, InÂdoÂnesia masih mengimpor beras sekitar 1-2 juta ton.
“Alih fungsi lahan pertanian secara besar-besaran setiap taÂhun menÂjadi gedung, perumahÂan, inÂfrastruktur dan pabrik menÂjadi penyebab utama penuÂruÂnan itu,†jelas Andy.
Selain itu, fasilitas irigasi yang buruk dan rusak mempersulit peÂngembangan pertanian pangan. Karena itu, alih fungsi lahan seÂharusnya dihentikan dan diperÂlu-kan lahan-lahan untuk pertanian.
Anggota Komisi IV DPR Ma’mur Hasanuddin mengataÂkan, sepanjang 2011 beras imÂpor yang masuk ke Indonesia sebaÂnyak 2,75 juta ton dengan nilai 1,5 miliar doÂlar AS. Vietnam seÂbagai negara terbesar pemasok beÂras sebanyak 1,78 juta ton tahun lalu. Sementara Thailand 938,7 ribu ton dengan nilai 533 juta doÂlar AS dan China 4,7 ribu ton dengan nilai 15,5 juta dolar AS.
Menurut Ma’mur, pemerintah sulit mencapai target ketahanan pangan selama masih membuka kebijakan impor beras. “Capaian gabah setinggi apapun tidak akan pernah mencukupi jika mindset dan paradigma pemerintah meÂngenai importasi dan kedaulatan pangan tidak berubah,†ujarnya.
Dia menyayangkan kebijakan kontradiktif impor selalu dilaÂkuÂkan setiap tahun oleh pemerinÂtah di tengah masa panen raya dan optimisme produksi naik dari petani. Padahal, Bulog seÂring diingatkan untuk melakuÂkan peÂnyerapan gabah petani di masa panen, namun tidak pernah terÂealisasi dengan baik.
Di sisi lain, Kementan didoÂrong untuk meningkatkan proÂdukÂsi pertanian, namun tidak ada kebijakan proteksi lahan dan reÂvitalisasi infrastruktur perÂtaÂnian yang memadai.
Sedangkan Kementerian PerÂdagangan hanya melihat beras sebagai komoditas ekonomi yang diperjualbelikan dan kecuÂkupan stok, namun kurang memÂperÂtimbangkan keberpihakan terhaÂdap petani lokal.
“Selama ini rasio keterÂganÂtuÂngan impor beras Indonesia terÂhadap konsumsi beras nasional terus meningkat hampir dua kali lipat,†terang Ma’mur.
Untuk diketahui, berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) produksi padi 2012 diperkirakan 68,96 juta ton Gabah Kering GiÂling (GKG) atau mengalami keÂnaikan 3,20 juta ton (4,87 perÂsen) dibanding 2011. KenaiÂkan terÂsebut diperkirakan terjadi di Jawa 2,09 juta ton dan di luar Jawa 1,11 juta ton. [Harian Rakyat Merdeka]
BERITA TERKAIT: