Produk Olahan Lele dan Nila Siap Masak Diprediksi Mampu Genjot Cuan

 LAPORAN: <a href='https://rmol.id/about/adityo-nugroho-1'>ADITYO NUGROHO</a>
LAPORAN: ADITYO NUGROHO
  • Sabtu, 10 Oktober 2026, 03:57 WIB
Produk Olahan Lele dan Nila Siap Masak Diprediksi Mampu Genjot Cuan
Produk olahan lele dan nila. (Foto: Humas KKP)
Kecil Besar
rmol news logo Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) mendorong ikan nila dan lele hasil budi daya ikan darat tematik dari 100 lokasi berbasis bioflok, diolah menjadi produk siap masak (ready to cook) berkualitas. Langkah tersebut untuk menjawab kebutuhan variasi produk perikanan di tengah masyarakat, sekaligus untuk memasok kebutuhan ikan di Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).

“Komoditas hasil budi daya ikan darat tematik yang dikembangkan KKP saat ini, yaitu lele dan nila, perlu ditangani dan diolah menjadi produk bernilai tambah, bermutu, aman, serta memenuhi permintaan dapur SPPG. Jika ini terpenuhi, para offtaker, termasuk dapur SPPG, akan semakin tertarik untuk menyerap produknya,” jelas Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono dalam siaran resmi di Jakarta, Jumat, 9 Oktober 2026.

Salah satu upaya yang dilakukan KKP yakni menggelar Bimbingan Teknis Diversifikasi dan Nilai Tambah Komoditas Perikanan Berbasis Budi Daya Tematik di Semarang, Jawa Tengah belum lama ini. Kegiatan tersebut melibatkan pengelola budi daya ikan darat tematik berbasis bioflok di 100 lokasi Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP) di Pulau Jawa, serta calon offtaker dari SPPG, hotel dan restoran, jasa boga, hingga ritel.

Pertemuan itu menghasilkan 15 Letter of Interest (LoI) dan dua Perjanjian Kerja Sama (PKS) penjualan produk olahan lele siap masak antara KDKMP dengan SPPG di Kudus dan Rembang, Jawa Tengah.

Pelaksana Tugas Direktur Jenderal Penguatan Daya Saing Produk Kelautan dan Perikanan (PDSPKP), Erwin Dwiyana menambahkan, produk dengan konsep ready to cook, ready to serve, dan ready to eat menjadi tren pasar saat ini. Tentunya dengan tetap mengutamakan mutu, keamanan, dan kandungan gizi pangan. 

“SPPG, hotel, restoran, ritel dan jasa boga merupakan pasar potensial. Kami ingin unit usaha pengelolanya tidak hanya mampu memproduksi ikan, tetapi juga menghasilkan produk yang sesuai dengan kebutuhan mereka,” ujar Erwin.

Sebagai ilustrasi, untuk Kota Semarang, diperkirakan membutuhkan sekitar 36 ton ikan, jika 180  SPPG yang ada masing-masing menyerap sekitar 200 kilogram ikan untuk satu kali penyajian menu ikan. Dengan asumsi harga lele siap masak Rp25.000 per kilogram, nilai pasar yang terbentuk dapat mencapai Rp900 juta untuk satu kali penyajian.

Peluang tersebut semakin terbuka sejalan dengan Peraturan Presiden Nomor 74 Tahun 2026 tentang Gerakan Memasyarakatkan Makan Ikan (Gemarikan), yang turut mendorong penyediaan menu ikan dalam pelaksanaan Makan Bergizi Gratis (MBG). rmol news logo article


Jadikan RMOL.ID sumber pilihan pencarian Google
Temukan berita-berita hangat terpercaya dari RMOL.ID di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

ARTIKEL LAINNYA