Fasilitas yang menjadi salah satu pusat pengolahan minyak terbesar di Rusia itu disebut turut memasok kebutuhan militer Moskow.
Staf Umum Angkatan Bersenjata Ukraina menyatakan serangan tersebut dilakukan sebagai bagian dari upaya melemahkan kemampuan ekonomi dan militer Rusia.
Sebelumnya, produsen drone Ukraina, Fire Point, melaporkan bahwa kilang tersebut dihantam menggunakan drone serang jarak jauh FP-1 buatan mereka.
“Penghancuran fasilitas semacam itu merupakan pelaksanaan hak Ukraina yang tidak dapat dicabut untuk membela diri sesuai dengan Pasal 51 Piagam PBB dan bertujuan mengurangi potensi militer-ekonomi Federasi Rusia,” demikian pernyataan Staf Umum Ukraina, dikutip dari
The Kyiv Independent, Jumat, 9 Oktober 2026.
Rekaman video dan foto yang dibagikan melalui sejumlah kanal pemantau Ukraina memperlihatkan ledakan, kobaran api, serta asap tebal membubung dari area di sekitar kilang.
Gubernur Oblast Omsk Vitaly Khotsenko juga mengonfirmasi adanya serangan drone di wilayahnya, meski otoritas Ukraina belum mengonfirmasi serangan terhadap kilang tersebut sebelum pernyataan resmi Staf Umum dirilis.
Kilang minyak Omsk berada di Siberia barat daya, di sebelah utara perbatasan Kazakhstan. Kota Omsk, yang berpenduduk lebih dari satu juta jiwa, berjarak sekitar 2.500 kilometer dari wilayah Ukraina yang dikuasai Kyiv.
Fasilitas itu mampu mengolah lebih dari 21 juta ton minyak mentah setiap tahun, menghasilkan beragam bahan bakar, pelumas, dan produk petrokimia.
Menurut Staf Umum Ukraina, kilang Omsk juga berperan dalam memasok kebutuhan militer Rusia. Fasilitas tersebut memiliki tingkat kedalaman pengolahan sekitar 99 persen, salah satu yang tertinggi di Rusia.
Serangan tersebut menambah tekanan terhadap infrastruktur energi yang dinilai Ukraina berkontribusi pada kemampuan perang Moskow.
Pada hari yang sama, Staf Umum Ukraina juga mengonfirmasi serangan malam hari terhadap kompleks pengolahan minyak dan petrokimia Gazprom Neftekhim Salavat di wilayah Bashkortostan, Rusia, hingga memicu kebakaran besar.
Fasilitas tersebut memiliki kapasitas pengolahan hingga 10 juta ton bahan baku hidrokarbon per tahun dan memproduksi bensin, solar, bahan bakar minyak, bitumen, polietilena, serta produk petrokimia lainnya.
BERITA TERKAIT: