WHO Pantau Kasus Kematian Peneliti Wabah Siberia

 LAPORAN: <a href='https://rmol.id/about/reni-erina-1'>RENI ERINA</a>
LAPORAN: RENI ERINA
  • Kamis, 08 Oktober 2026, 08:59 WIB
WHO Pantau Kasus Kematian Peneliti Wabah Siberia
Ilustasi (Artificial Intelligence)
Kecil Besar
rmol news logo Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) terus memantau dugaan kasus penyakit pes di Rusia setelah seorang pekerja laboratorium di wilayah Siberia meninggal dunia. Pemeriksaan masih dilakukan untuk memastikan apakah kematian tersebut benar-benar berkaitan dengan pes pneumonik, penyakit yang dapat menular melalui partikel pernapasan.

Dalam rilisnya, WHO mengatakan perempuan tersebut bekerja di sebuah laboratorium di wilayah Irkutsk yang menangani penelitian mengenai patogen berbahaya, termasuk penyakit pes. Kematian itu sedang diselidiki untuk mengetahui apakah disebabkan oleh wabah pneumonia.

“Seorang wanita yang bekerja di laboratorium di wilayah Irkutsk telah meninggal dunia, dan pihak berwenang sedang menyelidiki apakah wabah pneumonia menyebabkan kematiannya,” kata juru bicara WHO Christian Lindmeier kepada wartawan di Jenewa pada Selasa, dikutip Kamis, 8 Oktober 2026.

Lindmeier menjelaskan, laboratorium tempat perempuan itu bekerja merupakan lembaga yang mempelajari berbagai patogen berbahaya. Wilayah Siberia juga menjadi salah satu daerah tempat bakteri penyebab penyakit pes dapat ditemukan secara alami pada hewan liar.

Penyakit pes disebabkan oleh bakteri Yersinia pestis, yang umumnya ditemukan pada mamalia kecil dan kutu yang hidup pada hewan tersebut. Jika bakteri menginfeksi paru-paru, kondisi tersebut dikenal sebagai wabah pneumonia atau pes pneumonik.

WHO menyebut pes pneumonik merupakan bentuk penyakit yang sangat menular. Penyakit ini dapat menyebar dari orang ke orang melalui partikel pernapasan dan berpotensi memicu wabah serius.

WHO memperingatkan, pes pneumonik dapat menyebabkan kematian dalam waktu 18 hingga 24 jam setelah gejala muncul jika tidak segera ditangani. Namun, penyakit tersebut dapat disembuhkan dengan antibiotik yang tepat apabila pengobatan diberikan sejak dini.

Meski demikian, WHO menegaskan bahwa hingga kini belum ada konfirmasi resmi bahwa kematian pekerja laboratorium tersebut disebabkan oleh penyakit pes. Pemeriksaan laboratorium masih berlangsung.

Menurut informasi yang diterima WHO dari otoritas kesehatan Rusia, tidak ditemukan patogen penyakit menular berbahaya pada orang-orang yang melakukan kontak dengan pasien.

“Menurut hasil tes, tidak ada patogen penyakit menular berbahaya yang terdeteksi di antara kontak mana pun,” ujar Lindmeier, mengutip laporan otoritas kesehatan Rusia.

Kasus tersebut mulai dipantau WHO pada 2 Oktober setelah sistem pemantauan internal mendeteksi laporan media mengenai dugaan kematian akibat pes pneumonik di Irkutsk.

Sehari kemudian, WHO menghubungi otoritas kesehatan Rusia untuk meminta informasi lebih lanjut. Langkah tersebut dilakukan berdasarkan Peraturan Kesehatan Internasional, termasuk untuk memverifikasi kejadian, hasil pemeriksaan laboratorium, proses pelacakan kontak, serta potensi dampaknya terhadap kesehatan masyarakat internasional.

WHO mengatakan seluruh orang yang melakukan kontak dengan pasien telah diidentifikasi dan berada dalam pemantauan. Sejauh ini, tidak satu pun dari mereka menunjukkan gejala penyakit.

Berdasarkan informasi yang tersedia, WHO menilai risiko kesehatan berada pada level sedang hingga rendah untuk wilayah Irkutsk, rendah untuk Rusia secara keseluruhan, dan sangat rendah untuk kawasan Eropa yang berada dalam wilayah kerja WHO.

Lindmeier menegaskan penilaian tersebut masih dapat berubah apabila hasil pemeriksaan dan informasi baru diperoleh.

“WHO terus memantau situasi ini dengan cermat dan siap mendukung otoritas Rusia jika mereka meminta,” katanya.rmol news logo article
Jadikan RMOL.ID sumber pilihan pencarian Google
EDITOR: RENI ERINA
Temukan berita-berita hangat terpercaya dari RMOL.ID di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

ARTIKEL LAINNYA