Children in the DPR Korea
Under the Leadership of Great Commanders
Dimensy Mobile
Farah.ID
Dimensy
Farah.ID

Kanjuruhan.

 OLEH: <a href='https://rmol.id/about/adhie-m-massardi-5'>ADHIE M. MASSARDI</a>
OLEH: ADHIE M. MASSARDI
  • Sabtu, 08 Oktober 2022, 12:00 WIB
Lapangan hijau
Bukan. Itu lapangan hitam
Kebodohan, keserakahan, kebohongan
menghanguskan rerumputan
Kadal, kalajengking, belatung menjijikan
menyeruak dari dalam tanah busuk
Melemparkan tabung-tabung kejahatan
Asap mengepul menjulang-julang
Ini bukan asap lampu Aladin yang berubah jadi Jin
Menjanjikan tiga harapan
Asap dari tabung-tabung itu meracuni kehidupan
Menjadi iblis seribu tangan seperti dalam film horor
Mencekik leher anak-anak, remaja, perempuan
dan siapa saja. Bisa juga ayahmu, atau ibumu.
Mereka tak bisa bernafas. Ratusan tewas
dalam tumpukan ketakutan
Orang Jerman teringat kelakuan Nazi
Ruang tertutup. Gas beracun. Mayat-mayat
bergelimpangan. Paranoid. Mual
Mereka berteriak dalam spanduk
“More than 100 people killed by the police..!”
Pembunuh itu polisi!
Polisi itu pembunuh!
Kanjuruhan bukan kuburan
Di atas rerumputannya kupu-kupu dan capung
Berkejaran. Belalang cemburu memandang
Kanjuruhan itu kini kuburan
Keadilan, harapan, kemanusiaan yang dihinakan
Disemayamkan di sini
Tanpa upacara. Hening
Gas dari tabung-tabung kesombongan
Memaksa airmata keluar dari kelopak
mata perempuan yang kehilangan suami
Lelaki yang kehilangan istri
Suami-istri yang kehilangan anak
Anak-anak yang kehilangan orangtua
Kakak yang kehilangan adik
Adik yang kehilangan kakak

Asap itu iblis dengan seribu tangan
Menghitam di langit Kanjuruhan
Seluruh dunia gemetar
Kecuali kalian! rmol news logo article

Bekasi, Sabtu kedua bulan luka, 2022
Kanjuruhan.
EDITOR: JONRIS PURBA

ARTIKEL LAINNYA