Sembilan Calon Presiden 2024
Sembilan Calon Presiden 2024
Kopi Timur Mobile
Farah.ID
Kopi Timur
Farah.ID

Ketum ProDEM: Beginilah Jadinya Kalau Punya Presiden yang Popularitas Melampaui Kapasitasnya

 LAPORAN: <a href='https://rmol.id/about/jamaludin-akmal-1'>JAMALUDIN AKMAL</a>
LAPORAN: JAMALUDIN AKMAL
  • Minggu, 10 April 2022, 11:57 WIB
Ketum ProDEM: Beginilah Jadinya Kalau Punya Presiden yang Popularitas Melampaui Kapasitasnya
Ketua Majelis Jaringan Aktivis Pro Demokrasi (ProDEM) Iwan Sumule/Net
rmol news logo Pembangunan infrastruktur di era Presiden Joko Widodo memang tengah digenjot dengan keras. Namun tidak sedikit dari pembangunan itu yang tidak efektif dan membuat neraca keuangan negara merugi.

Ketua Majelis Jaringan Aktivis Pro Demokrasi (ProDEM) Iwan Sumule setuju dengan pernyataan ekonom senior, Faisal Basri tentang pembangunan di era Jokowi yang banyak ngawur. Pernyataan itu dipaparkan dalam sebuah wawancara di salah satu televisi swasta nasional.

Seperti pembangunan tol. Menurut Faisal Basri, yang dibutuhkan untuk jalur distribusi di Indonesia adalah jalur laut, bukan darat. Arus barang dengan menggunakan transportasi laut lebih efektif, sehingga yang seharusnya diperbaiki adalah pelabuhan-pelabuhan di tanah air.

Di satu sisi, Fausak Basri juga mengkritik pembiayaan jalan tol yang membebani BUMN. Termasuk pembangunan kereta bandara yang terlalu mewah tapi sepi penumpang.

“Betul kata Bang Faisal Basri ini. Banyak yang ngawur,” ujar Iwan Sumule saat berbincang dengan Kantor Berita Politik RMOL, Minggu (10/4).

Menurutnya semua itu terjadi karena masyarakat Indonesia terpesona dengan pencitraan yang dilakukan presiden, mulai dari di Solo saat menjabat sebagai walikota hingga di Jakarta sebagai gubernur.

Di mana Presiden Joko Widodo sangat populer di benak rakyat. Dia ditampilkan sebagai sosok merakyat yang visioner dan mengerti masalah rakyat.

Pada kenyataannya, kini kebijakan yang diambil justru menyengsarakan rakyat, seperti mahalnya harga minyak goreng. Bahkan terkesan tidak mengerti masalah rakyat saat presiden ngotot mau membangun ibukota negara baru di Kalimantan.

“Ya beginilah jadinya kalau punya presiden yang popularitasnya melampaui kapasitasnya,” tutupnya. rmol news logo article

ARTIKEL LAINNYA