Di Bawah Ancaman Komodor AS, Jepang Akhiri Isolasi Diri Lewat Konvensi Kanagawa 1854

Komodor Angkatan Laut, Matthew Perry/Net

Amerika Serikat berhasil mendobrak kebijakan 'Jepang tertutup' yang telah berjalan selama ratusan tahun. Lewat acaman seorang Komodor Angkatan Laut AS, Matthew Perry, Jepang akhirya membuka pelabuhan-pelabuhannya dan menyepakati Perjanjian Kanagawa pada 31 Maret 1854.  

Jepang di masa Keshogunan Tokugawa adalah era masyarakat yang tertutup dari dunia luar. Sejak awal abad ke-17, Keshogunan Tokugawa menerapkan kebijakan mengisolasi negara dari pengaruh luar. Perdagangan luar negeri hanya dilakukan dengan Belanda dan China dan dilakukan secara eksklusif di Nagasaki di bawah monopoli pemerintah yang ketat.

Ini adalah periode yang disebut 'Pax Tokugawa' atau era damai, yang sebagian besar terkait dengan perdamaian rumah tangga, stabilitas sosial, pembangunan komersial, dan melek huruf. Era ini telah berjalan selama kurang lebih 250 tahun sejak pemimpin Keshogunan Tokugawa, yaitu Tokugawa Ieyasu, berhasil menyatukan seluruh Jepang.

Tokugawa Ieyasu menjadi shōgun, dan klan Tokugawa memerintah Jepang dari Kastil Edo di kota timur Edo (Tokyo) bersama dengan penguasa daimyo dari kelas samurai. Keshogunan Tokugawa  juga dikenal sebagai Keshogunan Edo, adalah feodal pemerintah militer Jepang selama Zaman Edo dari 1603 hingga 1868.

Kebijakan mengisolasi diri ini adalah untuk menekan penyebaran agama Kristen yang pada abad ke -17 telah menyebar ke seluruh dunia. Tokugawa khawatir bahwa perdagangan dengan kekuatan barat akan menyebabkan ketidakstabilan lebih lanjut di negara tersebut.

Selain itu, kebijakan ini juga diterapkan karena orang Jepang takut bahwa perdagangan luar negeri dan kekayaan yang berkembang akan mengarah pada kebangkitan seorang daimyo yang cukup kuat untuk menggulingkan klan Tokugawa yang berkuasa, terutama setelah melihat apa yang terjadi di Tiongkok selama Perang Candu.

Meningkatnya kontak dengan kapal perang asing dan meningkatnya disparitas antara teknologi militer barat dan tentara feodal Jepang,  menumbuhkan kekhawatiran yang semakin besar. Orang Jepang telah mengikuti perkembangan peristiwa dunia melalui informasi yang dikumpulkan dari pedagang Belanda di Dejima.

Pada awal abad ke-19, kebijakan isolasi itu semakin mendapat tantangan. Pada tahun 1844, Raja William II dari Belanda mengirim surat yang mendesak Jepang untuk mengakhiri kebijakan isolasi diri datangnya paksaan dari luar.

Pada 1846, ekspedisi resmi Amerika yang dipimpin oleh Komodor James Biddle tiba di Jepang, mendesak agar pelabuhan dibuka untuk perdagangan. Namun, upayanya gagal.

Pada 1853, Komodor Angkatan Laut Amerika Serikat Matthew C. Perry dikirim dengan armada kapal perang oleh Presiden AS Millard Fillmore untuk memaksa pembukaan pelabuhan Jepang untuk perdagangan Amerika. Tidak tanggung-tanggung, Fillmore bahkan mengancam dengan penggunaan diplomasi kapal perang.

Perry tiba dengan empat kapal perang di Uraga, di mulut Teluk Edo pada tanggal 8 Juli 1853. Secara terang-terangan menuntut Jepang agar membuka pelabuhannya agar ia bisa melanjutkan perjalanan ke Nagasaki, yang merupakan targetnya. Ia mengancam akan membumihanguskan semua wilayah itu jika permintaannya ditolak.   

Perselisihan terjadi cukup menegangkan dan berlarut-larut. Perry yang marah karena ditolak masuk mengatakan betapa para 'kaisar' itu menganggap remeh perintah Presiden AS. Perry bahkan mendemonstrasikan tembakannya dengan membabi buta ke laut sebagai ancaman. Perry mendemonstrasikan kekuatan militer AS, sehingga lama kelamaan kearohanan pihak Jepang pun mulai kendur.

Perry kemudian kembali lagi pada 11 Februari 1854, dengan kekuatan yang lebih besar yaitu delapan kapal perang dan menjelaskan bahwa dia tidak akan pergi sampai sebuah perjanjian ditandatangani, atau semua akan hancur bersama-sama.

Pihak Jepang akhirnya menyerah dan memenuhi semua tuntutan Perry, kecuai satu; perjanjian komersial yang meniru perjanjian Amerika sebelumnya dengan China. Perry setuju untuk ditunda di lain waktu.

Perjanjian Kanagawa atau dikenal sebagai Konvensi Kanagawa pun disepakati pada 31 Maret 1854. Persetujuan ini juga menjamin keselamatan kapal Amerika yang karam dan mendirikan kedutaan Amerika yang permanen. Perjanjian itu disebut
juga sebagai perjanjian perdamaian dan persahabatan AS-Jepang 1854.

Setelah persetujuan ini diselesaikan, persetujuan lainnya yang mirip juga dinegosiasikan oleh orang-orang Rusia dan Britania.
EDITOR: RENI ERINA

Komentar


Video

Jendela Usaha • Laris Manis Saat Ramadhan Dengan Olahan Kolang Kaling

Rabu, 14 April 2021
Video

RMOL WORLD VIEW • Apa Kabar Asia Timur?

Rabu, 14 April 2021
Video

Tanya Jawab Cak Ulung • Apa Kabar Vaksin Nusantara?

Kamis, 15 April 2021

Artikel Lainnya

Perang Black Hawk 1832, Ketika Para Pendatang Amerika Membombardir Penduduk Asli
Histoire

Perang Black Hawk 1832, Keti..

08 April 2021 06:17
Soepriyadi, Pahlawan Nasional Tanpa Makam
Histoire

Soepriyadi, Pahlawan Nasiona..

07 April 2021 18:26
Perlawanan Daidan Dari Blitar
Histoire

Perlawanan Daidan Dari Blita..

07 April 2021 18:10
Bentukan Nippon Tapi Lebih Indonesia
Histoire

Bentukan Nippon Tapi Lebih I..

07 April 2021 17:47
Patriotisme Berpadu Mimpi Asia Timur Raya
Histoire

Patriotisme Berpadu Mimpi As..

07 April 2021 17:31
Pembantaian Fantana Alba 1941: Membayar Mimpi Pulang Ke Tanah Air Dengan Nyawa
Histoire

Pembantaian Fantana Alba 194..

01 April 2021 06:07
Di Bawah Ancaman Komodor AS, Jepang Akhiri Isolasi Diri Lewat Konvensi Kanagawa 1854
Histoire

Di Bawah Ancaman Komodor AS,..

31 Maret 2021 06:07
Bareskrim-PPATK Saling Lempar Soal Blokir Rekening, Kuasa Hukum FPI: Pasti Ada Yang Gak Beres
Histoire

Bareskrim-PPATK Saling Lempa..

25 Maret 2021 18:20