Farah.ID
Farah.ID

Di Bawah Ancaman Komodor AS, Jepang Akhiri Isolasi Diri Lewat Konvensi Kanagawa 1854

 LAPORAN: <a href='https://rmol.id/about/reni-erina-1'>RENI ERINA</a>
LAPORAN: RENI ERINA
  • Rabu, 31 Maret 2021, 06:07 WIB
Di Bawah Ancaman Komodor AS, Jepang Akhiri Isolasi Diri Lewat Konvensi Kanagawa 1854
Komodor Angkatan Laut, Matthew Perry/Net
rmol news logo Amerika Serikat berhasil mendobrak kebijakan 'Jepang tertutup' yang telah berjalan selama ratusan tahun. Lewat acaman seorang Komodor Angkatan Laut AS, Matthew Perry, Jepang akhirya membuka pelabuhan-pelabuhannya dan menyepakati Perjanjian Kanagawa pada 31 Maret 1854.  

Jepang di masa Keshogunan Tokugawa adalah era masyarakat yang tertutup dari dunia luar. Sejak awal abad ke-17, Keshogunan Tokugawa menerapkan kebijakan mengisolasi negara dari pengaruh luar. Perdagangan luar negeri hanya dilakukan dengan Belanda dan China dan dilakukan secara eksklusif di Nagasaki di bawah monopoli pemerintah yang ketat.

Ini adalah periode yang disebut 'Pax Tokugawa' atau era damai, yang sebagian besar terkait dengan perdamaian rumah tangga, stabilitas sosial, pembangunan komersial, dan melek huruf. Era ini telah berjalan selama kurang lebih 250 tahun sejak pemimpin Keshogunan Tokugawa, yaitu Tokugawa Ieyasu, berhasil menyatukan seluruh Jepang.

Tokugawa Ieyasu menjadi shōgun, dan klan Tokugawa memerintah Jepang dari Kastil Edo di kota timur Edo (Tokyo) bersama dengan penguasa daimyo dari kelas samurai. Keshogunan Tokugawa  juga dikenal sebagai Keshogunan Edo, adalah feodal pemerintah militer Jepang selama Zaman Edo dari 1603 hingga 1868.

Kebijakan mengisolasi diri ini adalah untuk menekan penyebaran agama Kristen yang pada abad ke -17 telah menyebar ke seluruh dunia. Tokugawa khawatir bahwa perdagangan dengan kekuatan barat akan menyebabkan ketidakstabilan lebih lanjut di negara tersebut.

Selain itu, kebijakan ini juga diterapkan karena orang Jepang takut bahwa perdagangan luar negeri dan kekayaan yang berkembang akan mengarah pada kebangkitan seorang daimyo yang cukup kuat untuk menggulingkan klan Tokugawa yang berkuasa, terutama setelah melihat apa yang terjadi di Tiongkok selama Perang Candu.

Meningkatnya kontak dengan kapal perang asing dan meningkatnya disparitas antara teknologi militer barat dan tentara feodal Jepang,  menumbuhkan kekhawatiran yang semakin besar. Orang Jepang telah mengikuti perkembangan peristiwa dunia melalui informasi yang dikumpulkan dari pedagang Belanda di Dejima.

Pada awal abad ke-19, kebijakan isolasi itu semakin mendapat tantangan. Pada tahun 1844, Raja William II dari Belanda mengirim surat yang mendesak Jepang untuk mengakhiri kebijakan isolasi diri datangnya paksaan dari luar.

Pada 1846, ekspedisi resmi Amerika yang dipimpin oleh Komodor James Biddle tiba di Jepang, mendesak agar pelabuhan dibuka untuk perdagangan. Namun, upayanya gagal.

Pada 1853, Komodor Angkatan Laut Amerika Serikat Matthew C. Perry dikirim dengan armada kapal perang oleh Presiden AS Millard Fillmore untuk memaksa pembukaan pelabuhan Jepang untuk perdagangan Amerika. Tidak tanggung-tanggung, Fillmore bahkan mengancam dengan penggunaan diplomasi kapal perang.

Perry tiba dengan empat kapal perang di Uraga, di mulut Teluk Edo pada tanggal 8 Juli 1853. Secara terang-terangan menuntut Jepang agar membuka pelabuhannya agar ia bisa melanjutkan perjalanan ke Nagasaki, yang merupakan targetnya. Ia mengancam akan membumihanguskan semua wilayah itu jika permintaannya ditolak.   

Perselisihan terjadi cukup menegangkan dan berlarut-larut. Perry yang marah karena ditolak masuk mengatakan betapa para 'kaisar' itu menganggap remeh perintah Presiden AS. Perry bahkan mendemonstrasikan tembakannya dengan membabi buta ke laut sebagai ancaman. Perry mendemonstrasikan kekuatan militer AS, sehingga lama kelamaan kearohanan pihak Jepang pun mulai kendur.

Perry kemudian kembali lagi pada 11 Februari 1854, dengan kekuatan yang lebih besar yaitu delapan kapal perang dan menjelaskan bahwa dia tidak akan pergi sampai sebuah perjanjian ditandatangani, atau semua akan hancur bersama-sama.

Pihak Jepang akhirnya menyerah dan memenuhi semua tuntutan Perry, kecuai satu; perjanjian komersial yang meniru perjanjian Amerika sebelumnya dengan China. Perry setuju untuk ditunda di lain waktu.

Perjanjian Kanagawa atau dikenal sebagai Konvensi Kanagawa pun disepakati pada 31 Maret 1854. Persetujuan ini juga menjamin keselamatan kapal Amerika yang karam dan mendirikan kedutaan Amerika yang permanen. Perjanjian itu disebut
juga sebagai perjanjian perdamaian dan persahabatan AS-Jepang 1854.

Setelah persetujuan ini diselesaikan, persetujuan lainnya yang mirip juga dinegosiasikan oleh orang-orang Rusia dan Britania. rmol news logo article
EDITOR: RENI ERINA

ARTIKEL LAINNYA