Teori Menghantam SBY Dapat Pelukan Moeldoko

Selasa, 02 Maret 2021, 07:29 WIB

Kepala KSP Moeldoko/Net

KISRUHNYA medan perpolitikan Indonesia tak hanya menguntungkan para petualang politik praktis yang menjadi liar keluar batas etika dan moral, tetapi juga oleh para pengulas politik yang berwujud tulisan tanpa literasi profesionalitas layaknya seorang penulis.

Sebut saja Zeng Wei Jian yang bernarasi berbagai artikel politik secara 'absurd' hanya demi kepuasan pribadi semata. Dengan mencermati sepak terjangnya dalam kisruh partai Demokrat dapat ditelusuri bahwa idealisme pihak yang didukungnya bukanlah kesungguhan jalur murni keberpihakannya, melainkan tak lebih dari ‘vested interested’ belaka.

Bukan tanpa alasan bila menelusuri artikel pujian sanjungannya terhadap sosok Jend Purn. Gatot Nurmantyo selagi menjabat Panglima TNI adalah fakta tragis yang berseberangan ketika GN menjadi salah seorang Deklarator KAMI. Jejak digital memang nyaris seperti cermin diri tanpa retakan.

Pada periode berbeda dapat ditemukan antagonis narasi dari artikel ZWJ lainnya terhadap sosok figur yang tengah menjadi sorotan publik. Ulasannya bisa seperti 'madu' juga dapat berupa sejenis 'racun' hasil campuran opini bercampur kutipan bacaan versi tokoh di 'wikipedia' dimana semua itu adalah semacam 'by order' belaka.

Zeng yang semasa kepemimpinan SBY bukanlah siapa-siapa bahkan menyandang istilah ‘kuli tinta>’ pun tidaklah layak saat itu, entah belajar atau memang bakat terpendam, mulailah ulasan-ulasan artikel politiknya mengalir khususnya terkait pilpres pasca era SBY.

Namun sayangnya ibarat mampu mengendarai kendaraan tanpa belajar resmi sehingga sering tidak tahu aturan atau etika mengemudi di jalan.

Arogansi Zeng terlalu lancang menyerang dan merendahkan SBY dan AHY dalam hirarki jabatan dan karir juga kemampuan dan kapasitas mereka dalam tataran elite politik dan kebangsaan di negeri ini. Tak ada seujung kukupun kapasitas Zeng dalam jasa bagi negeri ini dibanding AHY apalagi SBY.

Ulahnya hanya berlaku bagi pihak yang belum mengenal rekam jejaknya sehingga terpukau saat 'madu' pujian digulirkan, padahal baginya hanyalah sensasi yang berujung pada 'harga' balasannya.

Maka tidaklah heran ribuan 'follower' nya menjauh dan yang  bertahan pun sering mencibir dan menyindirnya, juga hampir tak ada link medsos manapun bersedia merilis tulisan ulasannya.

Sepertinya cara mencari simpatik dengan menyerang lawan yang tengah berseberangan dipakai sebagai teori menghantam SBY agar dapat pelukan Moeldoko sementara ini tampak berhasil, semoga saja  tidak kebablasan.

Adian Radiatus

Pengamat sosial politik

Komentar


Video

FARAH Zoomtalk Spesial Ramadhan • Sibuklah Memperbaiki Diri Sendiri

Sabtu, 17 April 2021
Video

Perawat RS Siloam Palembang Dianiaya Keluarga Pasien

Sabtu, 17 April 2021
Video

Gudang Alat Produksi Roti dan 4 Unit Kendaraan Ludes Terbakar

Sabtu, 17 April 2021

Artikel Lainnya

Belajar Dari India, Tinggalkan Pencitraan, Dan Bersikaplah Kesatria
Publika

Belajar Dari India, Tinggalk..

18 April 2021 11:45
Bagaimana Cara Amerika Menguasai Dunia?
Publika

Bagaimana Cara Amerika Mengu..

18 April 2021 08:37
Boleh Kaget Tapi Jangan Masa Bodoh (3): Politik Dinasti Dan Kualitas Pemimpin
Publika

Boleh Kaget Tapi Jangan Masa..

18 April 2021 05:54
Jalan Sederhana
Publika

Jalan Sederhana

17 April 2021 23:18
Persimpangan Elite Dan Ideologi Partai
Publika

Persimpangan Elite Dan Ideol..

17 April 2021 18:58
Monopoli Pengelolaan Zakat Dalam Upaya Pengentasan Kemiskinan Pada Masa Covid-19
Publika

Monopoli Pengelolaan Zakat D..

17 April 2021 10:59
Apa Tanggung Jawab Sinuhun Jika PLN Bangkrut?
Publika

Apa Tanggung Jawab Sinuhun J..

16 April 2021 07:50
Dua Kementerian Baru, Siapa Menterinya?
Publika

Dua Kementerian Baru, Siapa ..

16 April 2021 07:28