Epidemiolog Menggugat!

Ilustrasi/Net

MATI! Penularan wabah merebak, maut menjemput dalam komunitas, para epidemiolog memainkan peran mengatasi kekisruhan yang terjadi.

Bagi Rob Wallace, keberadaan epidemiolog merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari kerusakan yang ditimbulkan oleh sistem kapitalisme.

Hal itu tertuang dalam bukunya, Matinya Epidemilog: Ekspansi Modal & Asal-Usul Covid-19, 2020. Pada buku setebal 259 halaman tersebut, Rob Wallace mempergunakan kapasitasnya sebagai ahli biologi evolusioner dari University of Minnesota.

Kajian ini berkaitan dengan berbagai buku lain yang dibuat Wallace, termasuk di antaranya yang paling relevan adalah Big Farms, Make Big Flu, 2016. Sesuai judulnya, Wallace menarik korelasi antara proses industrialisasi peternakan yang massif dengan kemunculan varian flu.

Dalam buku terbarunya kali ini, Wallace menegaskan bahwa Covid-19 adalah konsekuensi logis dari sistem produksi dan konsumsi dunia. Periode pagebluk alias pandemi, seolah hanya menunggu waktu meletus dari gelembung interaksi manusia yang eksploitatif atas ekosistem.

Motor Ekonomi

Bidang profesi epidemiolog, sebut Wallace, tidak hanya mempelajari masalah kesehatan yang terjadi pada populasi manusia, sekaligus menjadi juru cuci piring dari pesta yang tidak pernah usai. Wabah hadir silih berganti dan para epidemiolog terus menyampaikan peringatannya.

Keterhubungan antara manusia dan sistem hidupnya, dalam siklus ekonomi yang berorientasi pada keuntungan nominal, kemudian seakan mengabaikan terjadinya potensi ketidakseimbangan dari berbagai organisme yang hidup bersama di permukaan bumi.

Pertumbuhan dan orientasi akumulasi nilai tambah menjadi motor penggerak ekonomi. Perspektifnya tertutup oleh “kacamata kuda”. Kuasa kapital menjadi arus utama, sisanya adalah soal angka yang menjadi bagian bersifat pelengkap penyerta semata.

Virus sebagai jasad renik yang tidak terlihat, tidak pernah berpikir. Kerangka alur hidupnya terbilang sederhana, menempel pada tubuh inang, lalu mereplikasi diri untuk tetap hidup dan berkembang biak. Setelahnya, tubuh inang yang ditempeli parasit melemah kemudian mati.

Kemampuan berpikir tentu terletak secara mutlak ada pada manusia yang berada di puncak ekosistem, untuk mengendalikan diri dari syahwat yang berlebihan dalam mengejar akumulasi keuntungan secara ekonomistik. Seperti halnya peternakan besar menciptakan bencana.

Tumpang tindihnya ruang hidup antar organisme yang semakin menyempit, memunculkan timbulnya jenis wabah baru yang semakin menular, mudah menginfeksi dan bersifat saling menulari dalam urutan mata rantai secara berkesinambungan. Sulit dihindari.

Pertemuan Pasar  

Sebagian pihak menyebut pasar Wuhan adalah sumber asal muasal Covid-19, sesuatu yang harus diuji premisnya. Keinginan untuk mengkonsumsi binatang liar adalah bagian yang terfasilitasi dari mekanisme pasar, pertemuan antara permintaan dan penawaran.

Demikian pula halnya kekuasaan dibangun di atas dasar transaksional, persis sebagaimana sebuah pasar. Kekuasaan pula hidup dan memastikan kepentingan ekonominya tidak diganggu gugat, dengan berbagai cara, termasuk memperdaya seluruh sumber daya dan tata ruang.

Lokasi pasar di pedesaan menjadi tertuduh dan dianggap sebagai biang keladi persoalan. Tetapi juga harus disadari bila apa yang terjadi di pedesaan, juga merupakan bagian yang terintegrasi dari kawasan perkotaan dalam melangsungkan dominasi kepentingan ekonominya.

Tekanan besar dari industri perkotaan menyebabkan terdesaknya kehidupan di pedesaan. Hidup di antara keduanya berada dalam arus bolak-balik yang saling mempengaruhi.

Globalisasi dan keterhubungan rantai pasok melalui mobilitas barang serta manusia, menjadi sarana terjadinya percepatan penularan. Lagi-lagi upaya seperti karantina adalah bagian dari pelajaran klasik kisah wabah di masa lalu, tidak pernah berubah. Begitu pula perilaku manusia.

Saat wabah menyeruak hadir, semua pihak sibuk menuding asal masalah. Menurut Wallace hal yang perlu dikoreksi dari situasi seperti pandemi Covid-19 adalah evaluasi menyeluruh sistem kehidupan manusia secara bijaksana agar harmonis atas alam kehidupannya.

Persoalannya, mungkinkah hal itu terjadi? Tentu sangat tergantung pada kesadaran manusia yang tumbuh selama pandemi. Pada setiap episode terjadinya penularan wabah, baik di masa lalu atau saat ini, kita tidak ubahnya menjadi mahkluk yang bebal untuk belajar.

Sejatinya, eksistensi manusia adalah hal yang utama dibalik semua kehidupan modern yang terlihat fantastis dengan seluruh pencapaiannya. Hal berulang yang terjadi sesaat ketika umat manusia lepas dari wabah, laju ekonomi bergerak seolah melupakan pelajaran penting tersebut.

Di situlah para epidemiolog tampak mati dalam gugatannya, terutama untuk memastikan rasionalitas manusia selama periode pandemi.

Penulis tengah menempuh program doktoral Ilmu Komunikasi Universitas Sahid
EDITOR: DIKI TRIANTO

Komentar


Video

Obrolan Bareng Bang Ruslan • Polling 24 Tokoh Harapan, bersama Arief Poyuono dan Jerry Massie

Selasa, 23 Februari 2021
Video

Kunjungan Presiden Jokowi di NTT Undang Kerumunan Massa

Selasa, 23 Februari 2021
Video

Jendela Usaha • Peluang Budidaya Ubi Jalar

Rabu, 24 Februari 2021

Artikel Lainnya

Tantangan Defisit Tugas Dirut Baru BPJS
Publika

Tantangan Defisit Tugas Diru..

25 Februari 2021 07:56
Tumbak Cucukan
Publika

Tumbak Cucukan

25 Februari 2021 03:55
UMKM Dan Penyelamatan Ekonomi Di Tengah Pandemi
Publika

UMKM Dan Penyelamatan Ekonom..

24 Februari 2021 19:51
Prahara Kampus
Publika

Prahara Kampus

24 Februari 2021 16:58
Duuuh, Gibran Rakabuming
Publika

Duuuh, Gibran Rakabuming

24 Februari 2021 10:34
The New Istiqlal
Publika

The New Istiqlal

23 Februari 2021 17:24
Rakyat Susah, Pejabat Malah Ditambah 'Cisnya'
Publika

Rakyat Susah, Pejabat Malah ..

23 Februari 2021 13:10
Adakah Yang Masih Berminat Menjadi Wapres?
Publika

Adakah Yang Masih Berminat M..

23 Februari 2021 11:13